Bekas Bupati Belitung Timur yang biasa disapa Ahok ini mengatakan, pada masa lalu warga Betawi sebenarnya memelihara Kali Ciliwung dan hidup dengan konsep hijau.
Ia berkata, hal itu dibuktikan dengan rindangnya suasana bantaran Kali Ciliwung akibat banyak pepohanan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Akhirnya Ciliwung itu direklamasi dan akhirnya membuat sungai ini menjadi sempit. Jadi, yang tinggal di pinggir Ciliwung itu sebetulnya adalah pendatang, bukan asli Betawi. Orang Betawi terkenal cerdas, tidak bodoh," ucapnya.
Ahok menuturkan, saat ini Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah menjalin kerja sama dengan Komando Daerah Militer Jaya dan Komando Pasukan Khusus untuk mengembalikan Kali Ciliwung ke bentuk awalnya.
"Kita bisa melihat Ciliwung di daerah dekat Depok, itu tidak kami pasang sheet pile (dinding turap). Tidak ada betonisasi. Kami buat begitu supaya alami, persis zaman dulu," tuturnya.
Apa yang diutarakan Ahok serupa dengan cerita yang CNN Indonesia dengarkan dari beberapa warga Kampung Pulo, Kamis (20/8) lalu. Warga RT 02 RW 03, Kampung Pulo, Jatinegara, Jakarta, bernama Ricky misalnya, mengisahkan masa kecilnya yang kerap dihabiskan dengan berenang di Kali Ciliwung. (Baca: Mereka yang Harus Pergi dari Kampung Pulo)
"Dulu sampai awal 1980-an, air kali memang sudah mulai kotor. Tapi sebelumnya, pada masa kakek-nenek saya, airnya jernih," ucapnya diikuti pembenaran dari beberapa sesepuh Kampung Pulo.
Ia berkata, Kampung Pulo mulai ramai pendatang pada awal dekade 1970. Mereka yang datang merupakan pekerja harian di Pasar Jatinegara dan toko kelontong di sekitarnya. (Baca: Kampung Pulo Masalah Lama Yang Dibiarkan Tak Selesai)
Rikcy berkata, para pendatang dengan sengaja menimbun sampah sampai akhirnya mereka dapat mendirikan bangunan di atasnya. "Awalnya bikin kandang ayam, lama-lama jadi sepetak kamar, akhirnya jadi rumah," tuturnya. (obs)