Perintah Kilat No. 1 Soedirman, Tulisan di Secarik Kertas

Helmi Firdaus, CNN Indonesia | Selasa, 25/08/2015 16:33 WIB
Perintah Kilat No. 1 Soedirman, Tulisan di Secarik Kertas Para pemain film Jenderal Soedirman, Matias Muchus, Adipati Dolkien, dan Baim Wong. (CNN Indonesia/Endro Priherdityo)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pertemuan antara Soekarno dan Panglima Besar Soedirman di Istana Negara pada 19 Desember 1948 saat dimulainya Agresi Militer II Belanda tidak berlangsung lama. Pertemuan penting itu hanya berlangsung sekitar 15 menit.

Setelah dua tokoh penting ini menjelaskan posisi masing-masing, Soekarno tetap di Istana Negara dan Soedirman akan bergerilya, Soediman yang masih sulit berdiri apalagi berjalan, meminta izin untuk meninggalkan Yogyakarta untuk bergabung dengan para pejuang gerilya.

Pesawat terbang Belanda terus meraung-raung di langit Yogyakarta dan melakukan serangan dari udara. Benteng Vreedenburg dan asrama TNI yang ada di depan Istana Negara menjadi sasarannya.


Sebelum meninggalkan Istana Negara, Panglima Besar Jenderal Soedirman masih sempat mengeluarkan Perintah Kilat No.1. Perintah Kilat No.1 itu secara langsung kepada seluruh Angkatan Perang RI untuk melaksanakan siasat yang telah ditentukan sebelumnya, yakni Perintah Siasat No.1 Panglima Besar. (Baca juga: Cerita Terpilihnya Seorang Guru SD Jadi Panglima Besar)

Bunyi Perintah Kilat No.1 Panglima Besar sebagaimana dikutip dari buku ,”Yogyakarta 19 Desember 1948, Jenderal Spoor versus Jenderal Sudirman,” (2006) tulisan Letjen (Purn) Himawan Soetanto ada empat butir:

1.Kita telah diserang.
2.Pada tanggal 19 Desember 1948 Angkatan Perang Belanda menyerang Yogyakarta dan Lapangan Terbang Maguwo.
3.Pemerintah Belanda telah membatalkan persetujuan gencatan senjata.
4.Semua Angkatan Peran menjalankan rencana yang telah ditetapkan untuk menghadapi serangan Belanda.

Perintah itu dikeluarkan di tempat, artinya di Istana Negara Yogyakarta pada 19 Desember 1948 pukul 08.00 WIB.

Dalam buku itu disebutkan bahwa dalam buku Panglima Besar TNI Jenderal Sudirman karya Letjen (Purn) Cokropranolo, dinyatakan bahwa perintah kilat itu ditulis tangan oleh Panglima Besar Soedirman sendiri. Perintah itu ditulisan dalam secarik kertas yang samar-sama terlihat.  (Baca juga: Jokowi Wajibkan Generasi Muda Tonton Kisah Jenderal Soedirman)

Tapi Kapten Suparjo Rustam, ajudan Panglima Besar Soedirman waktu itu, mengaku bisa membaca dengan jelas perintah yang ditulis tangan pada secarik kertas itu. Kemudian, teks perintah tersebut diberikan kepada Vaandrig Kadet Utoyo Kolopaking agar ia segera meneruskannya lewat telepon ke RRI Yogyakarta dan meminta teks itu disiarkan secepat mungkin.

Gerilya Soedirman pun dimulai. Pertama-tama, dia kembali ke rumah dinasnya untuk mengumpulkan dokumen-dokumen penting, lalu membakarnya untuk mencegahnya jatuh ke tangan Belanda. Soedirman, bersama sekelompok kecil tentara dan dokter pribadinya, mulai bergerak ke arah selatan menuju Kretek, Parangtritis,Bantul.

Selama di Kretek, Soedirman mengutus tentaranya yang menyamar ke kota yang telah diduduki oleh Belanda untuk melakukan pengintaian. Setelah beberapa hari di Kretek, ia dan kelompoknya melakukan perjalanan ke timur di sepanjang pantai selatan menuju Wonogiri.

Sebelum Belanda menyerang, sudah diputuskan bahwa Soedirman akan mengontrol para gerilyawan dari Jawa Timur, yang masih memiliki beberapa pangkalan militer. Sadar bahwa Belanda sedang memburu mereka, pada tanggal 23 Desember Soedirman memerintahkan pasukannya untuk melanjutkan perjalanan ke Ponorogo. Soedirman yang terus dibopong dengan menggunakan tandu di sepanjang perjalanan kemudian melanjutkan perjalanan ke timur. (BACA FOKUS: Mengenang Jenderal Besar Soedirman)

Soedirman yang berpakaian sipil kemudian melanjutkan Trenggalek lalu ke Kediri. Soedirman dan pasukannya terus melakukan perjalanan melewati hutan dan rimba, akhirnya tiba di Sobo, di dekat Gunung Lawu, pada tanggal 18 Februari 1949. Soedirman yakin bahwa Sobo aman dan memutuskan untuk menggunakannya sebagai markas gerilya.

Mengetahui bahwa opini internasional yang mulai mengutuk tindakan Belanda di Indonesia bisa membuat Indonesia menerima pengakuan yang lebih besar, Soedirman mulai membahas kemungkinan untuk melakukan serangan besar-besaran.

Pertemuan ini menghasilkan rencana Serangan Umum 1 Maret 1949 dimana pasukan TNI akan menyerang pos-pos Belanda di seluruh Jawa Tengah. Pasukan TNI di bawah komando Letnan Kolonel Soeharto berhasil merebut kembali Yogyakarta dalam waktu enam belas jam. Keberhasilan ini menjadi poin sukses unjuk kekuatan bahwa TNI masih ada dan menyebabkan Belanda kehilangan muka di mata internasional.

Serangan ini menghasilkan Perjanjian Roem Royen dimana salah satunya poinnya harus Angkatan Perang Belanda harus meninggalkan Yogyakarta. Soekarno lalu memerintah Soedirman untuk kembali ke Yogyakarta namun ditolaknya. Soedirman berkilah ia enggan bergabung dengan politisi yang dinilainya sepaham dengan Belanda.

Namun usai ia menerima surat dari Soekarno yang masih diperdebatkan siapa pengirimnya, akhirnya pada 10 Juli 1949, Soedirman dan pasukannya kembali ke Yogyakarta. Dia disambut meriah oleh warga sipil. Wartawan senior almarhum Rosihan Anwar yang hadir pada saat itu menuliskan bahwa kesediaan Soedirman untuk kembali ke Yogyakarta untuk menghindari anggapan ada keretakan diantara pemimpin tertinggi republik.


(hel)