Kepala Pusat Penerangan Mabes TNI Mayor Jenderal Endang Sodik mengungkapkan bahwa awal peristiwa tembakan tersebut adalah pengeroyokan yang dilakukan oleh sejumlah warga terhadap salah satu anggota TNI di Mimika, Papua. (Lihat Juga: Dua Warga Papua Tewas Tertembak Anggota TNI)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat mencari Maher, Azhar meminta agar rekannya tersebut keluar dari tempat persembunyiannya karena Azhar tak mampu menemukan dirinya. Namun saat Maher keluar untuk mendekati Azhar, tiba-tiba Azhar sudah dikeroyok oleh masyarakat sekitar.
"Saat itu dia menendang warga yang hendak mengambil senjata apinya dan saat kondisi semakin tak kondusif Azhar berlari dan menembakkan senjata api ke arah atas," kata Endang.
Kondisi yang saat itu gelap gulita, ujar Endang, mengakibatkan Azhar tidak bisa melihat ke arah mana peluru yang dia tembakkan meluncur. Belum lagi pantulan yang bisa terjadi membuat suasana semakin tidak terprediksi.
Oleh sebab itu, Endang menegaskan bahwa tembakan yang dilakukan oleh anak buahnya masuk kategori self defence atau perlindungan diri. Endang beralasan akan semakin berbahaya jika senjata tersebut malah berhasil direbut oleh oknum warga tersebut.
"Jadi dia mempertahankan diri maka menembak ke atas. Di tengah gelap gulita tembakan nyasar mungkin saja terjadi," ujarnya.
Sebelumnya, penembakan atas dua orang warga Mimika, Papua, terjadi sekitar pukul 01.33 WIT di Jalan Bhayangkara, Distrik Mimika Baru, Kabupaten Mimika, Papua.
Dua orang yang dikabarkan tewas yakni Imanuel Mairimau (23) dan Yulianus Okoare (23). Sementara dua warga yang terluka yakni Martinus Apokapo (24) menderita luka di pinggang kiri dan Martinus Imaputa (17) terluka di bagian kaki. (utd)