DPR Gulung Kembali Karpet Merah Setelah Diprotes

Gilang Fauzi, CNN Indonesia | Kamis, 03/09/2015 12:02 WIB
DPR Gulung Kembali Karpet Merah Setelah Diprotes Karpet merah yang kembali digulung di Gedung DPR. (Detik Foto/Indah Mutiara Kami)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dewan Perwakilan Rakyat kembali menggulung karpet merah di Gedung Nusantara III, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (3/8). Penggulungan karpet dilakukan setelah keberadaan karpet merah tersebut menuai kritik dari banyak pihak.

Wakil Ketua DPR Agus Hermanto menyatakan, penggulungan karpet merah dilakukan untuk menghindari cibiran yang mulai meluas. Namun dia menepis anggapan karpet merah itu kembali ditiadakan gara-gara surat protes dari Pimpinan MPR.

"Dalam rapat pimpinan yang saya pimpin kemarin tidak ada pembahasan soal karpet merah. Jadi karpet ini mau dicopot atau diapakan rasanya tidak ada masalah," ujar Agus di Gedung DPR.


Menurut Agus, karpet merah itu digelar sebagai bentuk penghargaan kepada tamu penting yang hendak mengunjungi DPR. Sekretariat Jenderal DPR sengaja membiarkan karpet itu digeler untuk efektivitas agar tidak ribet bongkar-pasang.

“Bagi saya ini tidak ada rugi maupun faedahnya untuk pencopotan tersebut. Karena ini tidak menjadi hal penting yang kami hadapi," ujar Agus.

Pimpinan MPR melalui Setjen sebelumnya melayangkan surat protes yang ditembuskan kepada Pimpinan DPR mengenai keberadaan karpet merah tersebut. Karpet merah dinilai sebagai simbol penghormatan yang tidak perlu dan dianggap mengusik aktivitas tamu lain yang hendak keluar-masuk Gedung DPR.

"Saya minta itu dicabut, orang lewat jadi terganggu," kata Wakil Ketua MPR Oesman Sapta Odang kepada wartawan di DPR.

Anggota Komisi III DPR Ruhut Sitompul bahkan sempat menyatakan pimpinan DPR seharusnya malu mendapat kritikan dari pimpinan MPR. Kehadiran karpet merah itu dianggap sebagai simbol yang terlalu mengagung-agungkan jabatan.

"Kenapa pimpinan DPR harus pakai karpet merah? Agar dihormati? Presiden saja tidak," kata Ruhut.

Sementara itu Wakil Ketua DPR Taufik Kurniawan mengatakan kehadiran karpet merah itu hanya sebatas kebutuhan protokoler untuk menerima tamu-tamu kenegaraan dan/atau tamu penting lainnya. Namun dia menegaskan siapapun bisa melewatinya.

"Saya juga kadang memilih untuk tidak masuk lewat karpet merah jika memang dirasa risih," kata Taufik.

Kehadiran karpet merah itu pada awalnya dipasang untuk menyambut tamu negara dalam acara Konferensi Asia Afrika April 2015. Namun sejak itu karpet merah tidak pernah dilepas dan membatasi akses tamu-tamu DPR yang hendak masuk ke Gedung DPR. (rdk/rdk)