Politisi yang akrab disapa Pram ini sepakat bahwa persoalan ini menjadi sangat pelik, namun pemerintah tetap berkewajiban untuk menyelesaikan dan menolak lupa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tapi kalau kemudian belum terungkap dalang utamanya, tentunya bukan kami yang bertugas untuk mengungkap itu, tentunya penegak hukum," katanya.
Pram bercerita, dirinya dan Munir merupakan aktivis mahasiswa. "Bahkan, dua hari sebelum Munir berangkat ke Belanda, pada waktu itu saya bertemu dengan Munir dan Nahlan. Karena kami mengetahui Munir seorang pejuang dan ketika mengetahui (kasus) itu, orang pertama dengan Pak Taufik memfasilitasi berbagai hal untuk memfasilitasi pemakaman sahabat Munir," ujarnya.
Munir diketahui wafat 11 tahun lalu saat sedang menuju Amsterdam, Belanda, 7 September 2004 silam. Berdasarkan keterangan para saksi, Bandara Changi pun menjadi lokasi krusial di mana eksekusi keracunan Munir terjadi.
Hingga saat ini, kasus pembunuhan Munir belum tuntas. Istri Munir, Suciwati, meyakini ada dalang di balik kematian suaminya. (meg)