Terakhir, penyidik telah memeriksa saksi-saksi dari pihak panitia pengadaan di perusahaan yang dipimpin Richard Joost Lino itu. Mereka diperiksa terkait pengadaan 10 mobile crane yang belakangan diketahui ternyata tidak dibutuhkan.
Selain itu, kata Suharsono, penyidik juga masih terus meneliti dokumen-dokumen yang didapatkan dari penggeledahan di kantor Pelindo II beberapa waktu lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, Lino menepis pendapat tersebut. "Jadi gini, banyak orang bilang saya punya backing. Backing saya itu apa yang saya kerjakan," kata Lino.
Lino yakin pihaknya sudah menjalani perusahaan sesuai dengan prosedur dan melalui proses ketat di pelabuhan. Dalam hal ini pihaknya juga telah menggandeng Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk melakukan audit keuangan sebagai bentuk transparansi perusahaan.
Lino juga mengaku siap menghadapi hal tersebut. "Saya siap. Saya siap karena ini kan kewajiban kita sebagai warga negara," kata Lino di Gedung DPR. (Baca: DPR Minta Ide Bentuk Pansus Pelindo II Jangan Dihebohkan)
Sebelumnya, setelah penggeledahan di kantor Pelindo II, Lino langsung menelepon Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Sofyan Djalil di depan awak media.
Tak lama kemudian, sejumlah rotasi terjadi di tubuh Polri. Komisaris Jenderal Budi Waseso yang saat itu menjabat sebagai Kepala Bareskrim bertukar jabatan dengan mantan Kepala Badan Narkotika Nasional Komisaris Jenderal Anang Iskandar. (obs)