LIPI: Gambut Sebabkan Asap Sulit Dipadamkan

Prima Gumilang, CNN Indonesia | Minggu, 20/09/2015 03:30 WIB
Menurut peneliti LIPI, kebakaran ada di lahan gambut dan sengaja dibakar oleh oknum yang tidak bertanggungjawab. Warga berjalan di tengah kabut asap ketika terjadi kebakaran lahan gambut di Rimbo Panjang, Kampar, Riau, Minggu (13/9). (AntaraFoto/ Ronny Muharrman)
Jakarta, CNN Indonesia -- Peneliti Pusat Penelitian (Puslit) Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Tukirin Partomihardjo mengatakan kabut asap yang mencemari udara di kawasan Sumatera dan Kalimantan sulit untuk dipadamkan. Menurutnya, kebakaran tersebut kebanyakan terjadi di lahan gambut.

‎”Pemadaman sulit sekali dilakukan kalau di hutan gambut,” kata Tukirin usai diskusi “Hasil Penelitian LIPI Terkait Kebakaran Hutan: Kebijakan, Dampak, dan Solusi, di Gedung LIPI, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan. (Lihat Juga FOKUS Derita Warga Dikepung Kabut Asap)

Ia menjelaskan, asap tebal itu terjadi akibat pembakaran yang tidak sempurna. Dia mencontohkan, ibarat membakar sampah yang belum kering, maka pembakaran terjadi secara tidak sempurna. Alhasil akan timbul asap pekat. Begitu pula dengan pembakaran di lahan gambut. (Lihat Juga: Jokowi: Kami Kejar Orang yang Sengaja Membakar Hutan)


Sebagian besar ekosistem hutan di Indonesia pada areal beriklim basah mengalami kerusakan, penurunan kelembaban dan bukaan kanopi. Akibatnya, lingkungan hutan gambut yang semestinya basah dan lembab menjadi kering dan mudah terbakar.

Inilah yang menjadi salah satu faktor penyebab kebakaran hutan di Indonesia, berdasarkan hasil penelitian LIPI.

Hasil penelitian yang dilakukan Tukirin menemukan bahwa dampak kebakaran berat dapat mematikan hampir seluruh pepohonan penyusun hutan lebih dari delapan puluh persen.

"Untuk hutan rawa gambut umumnya akan mati secara keseluruhan, tidak ada pohon yang mampu bertahan pascakebakaran apalagi kebakaran berulang akan memusnahkan seluruh jenis primer," ujar Tukirin.

Sementara itu, Peneliti Puslit Kemasyarakatan dan Kebudayaan LIPI, Herman Hidayat, mengatakan bahwa tujuh puluh persen lahan gambut yang terbakar memiliki kedalaman tiga meter di bawah permukaan tanah. Faktor itu yang membuat kabut asap sulit dipadamkan.

Berdasarkan peraturan pemerintah, katanya Herman, lahan gambut dapat berfungsi sebagai penyerap dan penyimpan air di dalam tanah. Menurutnya, lahan gambut tidak cocok bagi perusahaan yang mengembangkan budidaya kelapa sawit dan hutan tanaman industri. “Tapi praktiknya selalu berbeda,” katanya.

Atas kebakaran yang asapnya mencemari udara di Sumatera dan Kalimantan, Herman menyatakan, pemerintah pusat dan daerah adalah pihak yang harus bertanggung jawab. Beberapa nama perusahaan yang telah ditetapkan sebagai tersangka harus segera ditindak tegas.

"Harus dihukum perusahaan-perusahaan itu. Agar mereka mendapatkan efek jera, karena dari penelitian kami, lahan gambut itu dibakar oleh oknum yang tidak bertanggungjawab," ujar Herman.

(utd/utd)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK