"Saat itu laporannya ada empat orang yang mau masuk (kantor DPP) tapi dicegah. Namun nyatanya yang mau masuk ada 350 orang," kata Lulung saat ditemui di Mabes Polri, Senin (21/9). (Lihat Juga: Haji Lulung Sambangi Bareskrim Polri)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya dimintai keterangan sebagai ketua DPW. Dimintai keterangan saja," ujar Lulung.
Namun kantor DPP PPP saat itu masih dikuasai oleh kubu Suryadharma Ali tidak mempersilakan kubu Romy masuk ke kantor DPP. Akhirnya kerusuhan pun tak terhindarkan hingga polisi datang mengamankan suasana dan kondisi kantor partai berlambang Ka'bah tersebut.
PPP mengalami perpecahan internal yang menyebabkan PPP terbagi menjadi dua kubu. Kubu tersebut adalah kubu Djan Faridz yang merupakan ketua umum versi Muktamar di Jakarta. Kubu satu lagi adalah kubu Romahurmuziy yang merupakan ketua umum versi Muktamar Surabaya.
Saat itu, pada Oktober 2014, Romy yang menjabat sebagai Sekretaris Jenderal PPP merasa bahwa kepemimpinan Suryadharma Ali sudah tidak kondusif dan akhirnya menggelar muktamar di Surabaya.
Sementara itu Suryadharma Ali akhirnya membuat muktamar tandingan di Jakarta yang menghasilkan Djan Faridz sebagai ketua umum.
Perpecahan tersebut mengakibatkan dukungan PPP dalam dunia politik pun terbagi dua. Kubu Djan Faridz bergabung dengan Koalisi Merah Putih sedangkan kubu Romy mendukung pemerintahan Joko Widodo dan bergabung dengan Koalisi Indonesia Hebat. (utd)