"Instruksi Ketua Umum saat rapat fraksi PDIP kepada kami tidak boleh meminta tambaan tunjangan. Ibu Mega bilang malu (ekonomi) rakyat sedang tercekik seperti ini malah ribut ngurus tunjangan. Kami setuju dengan yang disampaikan Ketum," kata Anggota Fraksi PDIP Rieke Dyah Pitaloka di Gedung DPR, Selasa (22/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rieke meyakini banyak anggota dewan di parlemen yang punya pandangan sama dalam menyikapi kenaikan tunjangan anggota dewan. Dalam hal ini, Rieke berpendapat pada akhirnya parlemen bakal satu suara menolak kenaikan tunjangan.
Sebelumnya, sejumlah partai pendukung pemerintah memang satu suara menolak kenaikan tunjangan untuk presiden. Ketua Umum Partai Golkar hasil Munas Jakarta Agung Laksono mengatakan usulan tersebut menunjukkan rendahnya sensitivitas terhadap buruknya kondisi ekonomi Indonesia saat ini.
Lihat juga:Nenek Miskin vs Tunjangan DPR |
Hal serupa diutarakan Sekretaris Jenderal Partai Kebangkitan Bangsa Abdul Kadir Karding. Menurutnya, usulan tersebut disetujui Menteri Keuangan di momentum yang kurang tepat.
Oleh sebab itu, ia menilai ini adalah momen di mana pejabat negara harus bersikap arif dan mampu menahan diri. Sebab, menurutnya akan muncul dampak buruk bagi orang per orang dan institusi jika usulan ini dilanjutkan. "Tunda dulu. Jangan dilanjutkan," ujar Karding.
Senada dengan keduanya, Ketua Umum Partai Amanat Nasional Zulkifli Hasan mengatakan masih banyak yang perlu diselesaikan di Indonesia terkait perekonomian. Menurutnya, ekonomi Indonesia lambat dan kalah bersaing dengan China.
Hal tersebut disampaikan setelah rombongan MPR mengunjungi Kedutaan Besar Republik Indonesia di Beijing untuk memenuhi undangan pimpinan MPR China Yu Zhengsheng.
Ia pun mendorong agar kenaikan tunjangan dapat ditunda. Hasto turut minta kepada fraksi partai politik lain untuk satu suara menekankan penundaan yang rencananya telah disetujui Menteri Keuangan. (sip)