Salah satu penggerak koalisi, Ade Irawan mengatakan, setidaknya ada enam masalah pokok yang berkaitan dengan guru. Beberapa di antaranya adalah rekrutmen guru, distribusi guru yang tidak merata, politisasi guru, pengembangan karier guru, status guru dan kesejahteraannya.
Pegiat Koalisi Pendidikan Jimmy Paat menyoroti persoalan yang terjadi pada rekrutmen guru di Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK). Menurutnya, meski ada 417 LPTK di Indonesia namun tak menjadi pilihan utama bagi para siswa terbaik. LPTK hanya dijadikan cadangan ketika mereka tidak diterima di perguruan tinggi favorit.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Karut marut dalam mekanisme rekrutmen guru, menurut Ade, secara perlahan telah membentuk kastanisasi dalam guru. "Walau secara umum kewajiban guru PNS dan guru honor di sekolah sama, tetapi haknya berbeda," ujar aktivis Indonesia Corruption Watch itu.
Pernyataan tersebut dibenarkan salah satu guru SMA 17 Jakarta, Suparman. Menurutnya, saat ini kondisi guru minim pelatihan. Sementara menjelang momen pemilihan kepala daerah, kampanye terselubung dilakukan melalui berbagai seminar maupun pelatihan. Di sisi ini, guru mudah dimanfaatkan sebagai mesin politik calon kepala daerah.
ICW menemukan fakta bahwa guru kerap dijadikan objek kepentingan politik di daerah. Di beberapa daerah seperti Kabupaten Pandeglang, Banten, jabatan guru dijadikan sebagai "pembuangan" bagi pegawai negeri yang tidak mendukung pemenangan pemilihan.
Sementara pendiri Sekolah Tanpa Batas, Bambang Wisudo mengatakan, mayoritas guru di daerah memegang status sebagai guru honorer. Kastanisasi guru mulai dari PNS, guru honorer, guru bantu, maupun guru sukarelawan, menurut Bambang, hanya melahirkan diskriminasi.
Bambang juga mengkritisi tunjangan sertifikasi yang dinilai tidak mampu menyejahterakan guru. Pasalnya, niat baik tersebut dalam sisi implementasi dan strategi, bagi Bambang, tidak jelas.
"Sertifikasi ternyata tidak menyejahterakan guru, kebanyakan malah dipakai untuk hal konsumtif. Guru malah kebingungan terjerat hutang," katanya. (sur)