"Dari Jepang tidak akan memberikan bantuan helikopter atau pesawat, tapi bahan kimia untuk pemadaman api. Sampai saat ini masih berkoordinasi dengan Kemenlu dan Kepala BNPB," ujar Sutopo di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (12/10).
Sutopo memaparkan terdapat enam negara yang telah berkomitmen untuk membantu Indonesia mengatasi kabut asap ini. Di antaranya Malaysia, Singapura, Jepang, Rusia, China, dan Korea. Sampai saat ini, tutur dia, baru Malaysia dan Singapura yang telah mengirimkan pesawat atau helikopter bantuannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sutopo menjelaskan jika dilihat dari jumlah hotspot terjadi penurunan dibandingkan kemarin. Namun, asap makin meluas baik di Sumatra maupun Kalimantan. Sedangkan Jambi dan Riau menjadi kawasan yang terbakar sangat luas dan masih pekat.
Saat ini, tutur Sutopo, terdapat 11 helikopter dan pesawat yang dipusatkan di Sumatera Selatan, khususnya di Ogan Komering Ilir dan Musi Banyuasin di bawah kendali Danlanud Palembang.
Tim Malaysia dan Singapura sempat mengalami kesulitan memadamkan api dan asap karena sangat banyaknya titik api yang harus dijangkau. Bahkan, tim Singapura meminta Sutopo untuk memastikan titik-titik koordinat di mana mereka harus menjatuhkan bom air sesuai dengan titik api yang ada.
"Kalau tim Indonesia, karena sudah lama melakukan, maka melakukan penanganan dengan mandiri, artinya kami tetap dibantu dari posko tapi situasinya ketika mencari sumber-sumber air, kami cari yang dekat," kata dia.
Ia menuturkan setiap pagi dilakukan briefing kru dari 11 pesawat untuk menentukan pembagian tugas, titik mana saja yang harus ditangani, hingga pengaturan ketinggian, karena tugas penanganan kabut asap ini menyangkut pergerakan pesawat yang sangat cepat di lokasi yang relatif sama.
"Agar aman maka kami atur. Kami melakukan secara terus-menerus. Dan alhamdulillah kemarin sudah banyak hujan terutama di Riau, Kalbar, Kalsel, Kaltim banyak ujan," ujar dia.
Sutopo mengungkapkan, Presiden Jokowi memerintahkan agar penanganan kabut asap ini bisa selesai dalam jangka waktu dua pekan. "Kami dengan sgala ikhtiar kami, operasi darat, udara, penegakan hukum, sosialisasi kami lakukan. Ya kami berharap makin cepat, makin baik," kata dia. (bag)