"Potensi konflik sudah terdeteksi sejak awal, namun sayang deteksi dini itu tidak ditindaklanjuti," kata Tjahyo usai menghadiri Dies Natalis ke-59 Universitas Diponegoro di Semarang, Jawa Tengah.
Tjahjo membantah jika tidak dicegahnya kerusuhan itu adalah kesalahan intelijen. "Intelijen tidak kecolongan," katanya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya Direktur Riset Setara Institute Ismail Hasani menilai, Bupati Aceh Singkil Safriadi sebagai representasi negara turut memprakarsai kerusuhan bersentimen agama ini.
"Disebabkan karena adanya perjanjian 1979 yang diskriminatif bagi umat Kristiani," kata Ismail dalam keterangan tertulisnya.
Sementara itu Bupati Safriadi mengatakan, ada kesepakatan antarwarga di Aceh Singkil bertahun-tahun lalu. “Ada perjanjian damai antara umat Kristen dan Islam pada 1979 yang dikuatkan lagi di musyawarah tahun 2001,” kata dia kepada CNN Indonesia.
Berdasarkan perjanjian damai tersebut, ujar Safriadi, di Aceh Singkil disetujui berdiri satu gereja dan empat undung-undung (tempat ibadah kecil). Namun kini ternyata jumlah rumah ibadah telah lebih dari yang disepakati.
Pada akhirnya ada kesepakatan untuk pembongkaran 10 undung-undang pada tanggal 19 Oktober. Namun warga tak sabar dan bergerak sendiri pada 13 September lalu sehingga pecah kerusuhan. (sur)