"Kita sudah memperkirakan akan ada gerakan massa, makanya di setiap tempat juga sudah diberikan pengamanan. Jangan sampai selalu Polri yang disalahkan, tapi ini semua harus sinergi di semua pihak," kata Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Inspektur Jenderal Anton Charliyan di kantornya, Kamis (15/10).
Pilihan Redaksi |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami tidak malas-malasan, buktinya satu gereja sudah ada 20 orang. Hanya saja massa berjumlah ratusan," kata Anton.
"Kami sudah tahu dari beberapa hari (sebelum kejadian). Kami sudah meminimalkan keadaan itu. Namun, masih ada hal-hal yang tidak bisa dihindari," kata Luhut.
Luhut mengatakan, kerusuhan yang terjadi di Singkil bukanlah dipicu hal baru. Terkait permasalahan izin mendirikan bangunan atau rumah ibadah sempat mencuat sejak tahun 1979, 2011, 2013, dan kini kembali terkuak ke permukaan.
Kesepakatan sudah pernah diambil oleh pemerintah daerah untuk menanganinya. "Tapi kemudian ada massa yang memaksa melakukan pembakaran seperti kemarin," kata Luhut.
Sejauh ini, sudah lima orang ditetapkan sebagai tersangka kerusuhan yang menewaskan satu orang warga dan melukai empat orang lainnya. Sementara itu, lima orang lainnya kini sudah dinyatakan buron dan sedang dalam pengejaran aparat kepolisian. (Baca: Lima Tersangka Kerusuhan Singkil Buron) (obs)