Direktur Kriminal Umum Polda Jateng Komisaris Besar Gagas Nugraha mengatakan, komplotan ini sudah beraksi di enam lokasi yakni di Wonosobo, Salatiga, Boyolali, Sragen, Ngawi dan Nganjuk.
Mereka selalu menggunakan modus serupa. Ada salah seorang pelaku yang berpura-pura sebagai kiai untuk memperdayai korban.
"Ada sosok kiai inilah yang kerap membuat banyak korban terbujuk hingga akhirnya digendam (hipnotis)," kata Gagas di Mapolda Jateng, Kamis (19/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Korban yang dalam kondisi tak sadarkan diri hanya menurut ketika diminta melepas perhiasan dan barang berharga," kata Gagas.
Atas kejadian ini, Gagas mengimbau kepada masyarakat agar tidak menggunakan perhiasan yang bisa memancing pelaku tindak kejahatan beraksi.
Pengungkapan ini berawal dari tewasnya seorang warga Wonosobo bernama Sukiyem pada 30 Oktober lalu. Perempuan 67 tahun ini ditemukan tewas dalam kondisi mengenaskan.
Polisi yang melakukan penyelidikan akhirnya berhasil membekuk pelaku pembunuhan yang terdiri atas tiga orang warga Kabupaten Pasuruan. Ketiganya adalah Zainal Abidin alias Pak De, Fathur Rohman alias Dongkrak dan Agus.
Salah satu pelaku, Fatur Rohman mengakui bahwa target mereka adalah perempuan yang mengenakan perhiasan mencolok. "Biasanya ibu-ibu tua yang pakai perhiasan, di desa-desa dan daerah kan banyak, kata Fatur.
Atas perbuatannya, para tersangka dijerat pasal 365 KUHP tentang pencurian disertai kekerasan yang ancaman hukuman 15 tahun penjara. (sur)