Pada saat yang sama, LIPI menemukan ledakan populasi dari fitoplankton di lokasi yang sama dengan ditemukannya ikan-ikan mati tersebut.
"Kadar oksigen yang terlarut di air tersebut sangat rendah, yaitu hanya 1,094 mg/liter padahal pada keadaan normal kadar oksigennya adalah 4-5 mg/liter," ujar Peneliti Oseanografi LIPI Indra Bayu Vimono, seperti dikutip dari keterangan pers yang diterima CNN Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fenomena itu mengindikasikan adanya penyerapan dan pemanfaatan fostat dan nitrat oleh fitoplankton sebelum jumlahnya bertambah secara drastis.
Sebelumnya, Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Jakarta mengatakan ada kemungkinan pencemaran limbah industri atas kematian ribuan ikan di kawasan Ancol, Jakarta Utara.
"Kami mau cek dulu dari kualitas air sungai. Bukan tidak mungkin limbah industri karena lokasi itu merupakan muara dari 13 sungai," kata Kepala BPLHD Jakarta, Junaedi, saat dihubungi CNN Indonesia, Selasa (1/12).
"Musim hujan yang baru datang menyebabkan seluruh sampah dan endapan serta kotoran di darat bergerak ke muara," ujarnya.
Alhasil, kata Junaedi, arus yang deras dan tinggi menyebabkan turbulensi sungai. Sungaipun menjadi dangkal dan banyak kotoran. Ikan, ujarnya, menjadi kekurangan oksigen.
"Inilah yang menyebabkan ikan-ikan mati. Namun, untuk kasus ini, kami akan periksa apakah benar limbah industri atau cuaca yang menjadi penyebab kematian ribuan ikan tersebut," ujar Junaedi. (utd)