Rasanya Setya menjadi bintang pemberitaan paling populer dalam kancah politik terkini republik ini. Sebelum kasus yang menimpa pria kelahiran Bandung tahun 1954 mencuat, Setya sering disebut-sebut ikut terlibat dalam dugaan beberapa kasus korupsi seperti dugaan korupsi PON IX Riau, cessie Bank Bali, dugaan keterlibatan di kasus pengadaan e-KTP dan dugaan penyelundupan 60 ribu ton beras Vietnam.
Tidak banyak yang memberitakan bagaimana akhirnya Setya berhasil menduduki jabatan politik tertinggi di parlemen. Ia lahir di Bandung, besar di Jakarta dan Surabaya lalu menang sebagai anggota DPR RI lewat daerah pemilihan Nusa Tenggara Timur, untuk dua periode sebagai seorang dewan, 2009-2014 dan 2014-2019.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan latar belakang pengusaha, Setya boleh jadi adalah seorang yang memulai semuanya dari tataran paling rendah. Ia pernah berdagang beras dan madu, dalam artian pedagang sebenarnya, eceran, bukan partai besar.
Salah satu politisi Partai Golkar sempat bercerita, jika karier politiknya di Partai Golkar, dimulai dari 'kader' remeh. Politisi yang sempat menjadi anggota DPR RI 2009-2014 ini mengatakan, pekerjaannya diawali sebagai tukang jinjing tas dan map Ketua Umum Partai Golkar sebelum dipimpin oleh Akbar Tanjung.
"Dulu dia tukang bawa-bawa map dan bukain pintu saja. Sekarang dia yang pegang satu DPR," kata poltisi yang enggan disebutkan namanya, anggota DPR 2009-2014. Saat ia bercerita Setya tengah menjabat Ketua Fraksi Partai Golkar saat itu.
Karier politiknya sebanding dengan materi yang ia peroleh. CNNIndonesia.com sempat menyambangi Setya beberapa kali di kediamannya saat ia menjabat Bendaraha Partai Golkar. Rumahnya berada di kawasan mewah Panglima Polim, Jakarta Selatan.
Rumahnya tergolong besar dan megah. Mencoba mengingatnya, rumah Setya terdiri dari dua lantai ke atas dan satu lantai bawah tanah, dan satu lantai menerima tamu. Namun, uniknya, rumah seluas lebih dari 1000 meter persegi itu, dilengkap oleh lift.
Tak hanya itu, rumah Setya yang ditaksir bernilai Rp40 juta per meter seringkali dijadikan tempat pengambilan gambar untuk produksi sinetron.
"Gue kalau di rumah ya santai-santai begini saja. Ga tuh, gue enggak mikirin kasus-kasus itu, biarkan sajalah, cuma disebut-sebut saja," kata Setya saat ditanya mengenai kasus dugaan korupsi PON IX Riau, yang mencuat 2013 silam.
Namun, itu pertemuan nyaris dua tahun lalu dengan Setya Novanto. Kini kasus baru bergulir di Mahkamah Kehormatan Dewan dengan tuduhan pelanggaran etika serius oleh Setya Novanto, bahkan bukan tidak mungkin mengarah tindakan pidana.
Pencatutan nama Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, hingga muncul dugaan pelanggaran pasal pemufakatan jahat mulai diselidikai Kejaksaan Agung, mengusut Setya, pengusaha Riza Chalid dan Direktur Utama PT Freeport Indonesia Maroef Sjamsoeddin, terkait divestasi saham Freeport Indonesia. Dan itu bukan lagi kasus etis tak etis. Masihkah Setya setenang dulu? (pit)