Yusri Isnaeni, seorang ibu rumah tangga berusia 32 tahun asal Koja, Jakarta Utara, menceritakan ada banyak calo yang menyediakan jasa pencairan dana KJP di lingkungan pasar dekat tempat tinggalnya.
Para calo itu biasa beraksi saat jaringan pembayaran KJP sedang offline sehingga tidak bisa digunakan untuk bertransaksi. Penggunaan KJP, kata Yusri, kerap terhambat oleh kerusakan jaringan mesin uang elektronik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya berkali-kali pergi ke pasar, tapi selalu dijawab sistem offline sampai beberapa hari. Hingga hari kelima saya datangi juga offline. Padahal saya butuh sekali untuk membeli seragam sekolah anak saya," kata Yusri di kediamannya, Koja, Jumat (18/12).
"Dia bilang, 'Ibu kalau mau beli seragam di toko bisa, tapi cairkan dulu KJP-nya.' Akhirnya saya kasih KJP saya ke dia. Kemudian dia pergi dan kembali membawa uang tunai Rp300 ribu serta bukti penarikan uang KJP anak saya," kata Yusri.
Menurut Yusri, kawan-kawannya juga sering mengeluhkan mekanisme KJP. Beberapa di antara mereka sudat terbiasa mencairkan dana KJP karena selalu ditolak berbelanja jika tidak lebih dulu mencairkan uang dalam KJP.
Saat Yusri pertama kali mencairkan dana KJP anaknya karena terdesak mesti membeli seragam dan sepatu sekolah untuk sang anak sementara sistem KJP disebut penjaga toko sedang offline, kali itu pula petaka menimpanya. Dia disebut maling oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama.