Andre menerangkan berdasarkan informasi yang dimilikinya, pertemuan itu keluarga JK diwakili pengusaha Erwin Aksa dan adik iparnya Aksa Mahmud di Kantor Bosowa, Menara Karya lantai 16, Kuningan Jakarta.
"Jadi pertemuannya pada tahun 2015 sebelum bulan Juni, setelah Pak Jusuf Kalla menjadi Wakil Presiden. Pertemuan itu sebelum Pak Setya Novanto bertemu Pak Maroef Sjamsoeddin," kata Andre saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (22/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Isi pertemuan kami tidak mengetahui sama sekali. Tapi kami punya saksi yang menyaksikan pertemuan itu ada," kata Andre.
Lihat juga:Pansus Freeport Dianggap Tak Bermanfaat |
Andre berharap agar persoalan Freeport cepat terselesaikan. Terutama terkait perpanjangan kontrak Freeport di Indonesia. Untuk itu, dia mengharapkan agar pembahasan perpanjangan kontrak Freeport dilakukan bersama-sama oleh pemerintah, parlemen dan elemen masyarakat.
"Saya rasa Pansus adalah salah satu instrumen yang bisa kita pakai untuk konsensus apakah menyepakati atau menolak perpanjangan kontrak Freeport," ucap Andre.
Misbakhun Bela Jusuf Kalla
Wakil Sekretaris Jenderal Partai Golkar kubu Aburizal Bakrie, Misbakhun menyarankan agar pertemuan antara Erwin Aksa, Aksa Mahmud dan Jim Bob tidak dikait-kaitkan dengan JK.
“Kalau pun mereka keluarga Pak JK, ya, jangan dikait-kaitkan dengan Pak JK. Dan sebagai pebisnis, mereka berhak untuk menjalin kemitraan dengan siapapun,” ujar Misbakhun dalam keterangan tertulisnya, kemarin.
Anggota Komisi XI DPR itu mengingatkan, agar para pengkritik JK tidak berspekulasi dengan menyebut pertemuan Aksa dengan Jim Bob itu karena pengaruh JK.
“Karena itu, harus dipisahkan antara hubungan keluarga dengan bisnis,” kata Misbakhun.
"Itu kan pertemuan business to business, boleh saja. Apa yang salah? Kita kembali ke zaman kuno tidak boleh pengusaha ketemu pengusaha?," kata JK.
Kendati begitu, JK menyatakan tidak mengetahui isi pembicaraan pertemuan tersebut, termasuk dugaan tentang adanya lobi-lobi politik terkait Freeport. JK justru menantang agar pertemuan itu diungkap.
"Ah saya tidak tahu, dua-duanya pengusaha. Masak tidak boleh. Selidiki saja, bagus itu. Makin diselidiki makin baik buat dunia ini berkembang," sebut mantan Ketua Umum Partai Golkar tersebut. (bag)