Terduga Teroris yang Ditangkap Pernah Sembunyikan Santoso

Rinaldy Sofwan, CNN Indonesia | Sabtu, 02/01/2016 14:49 WIB
Terduga Teroris yang Ditangkap Pernah Sembunyikan Santoso Personel Densus 88 Mabes Polri melakukan penggrebekan di rumah terduga teroris jaringan ISIS di Jalan Perdana Blok B No 3, Petukanan Selatan, Jakarta Selatan, Minggu (22/3). (ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal)
Jakarta, CNN Indonesia -- Markas Besar Polri merilis inisial identitas dan peran terduga teroris Mujahidin Indonesia Timur pimpinan Santoso alias Abu Wardah yang ditangkap pada Kamis (31/12) lalu.

Kepala Bagian Penerangan Umum Komisaris Besar Suharsono mengatakan ada total enam orang yang ditangkap dalam operasi Camar Maleo IV itu. Data terbaru berbeda dengan yang diberitakan sebelumnya, yakni tujuh orang.

"Keenam orang tersebut ditangkap di daerah Poso, Malino dan Ampana," kata Suharsono dalam pesan tertulis.


Enam teroris yang ditangkap di antaranya adalah AP (38) yang berdomisili di Lage, Poso. Dia diduga berperan sebagai pendukung logistik dan pernah menyembunyikan Santoso di rumahnya.

Selain itu ada pula DRK (25) yang berdomisili di Labuan, Poso. Dia juga dinyatakan sebagai "pendukung logistik" kelompok teroris tersebut.

Ada pula SB (30) yang berdomisili di Tojo Tauna. Dia juga dideskripsikan sebagai "tim logistik."

Sementara itu, R alias A (19) yang berdomisili di Poso Kota dinyatakan sebagai "kurir logistik."

Suharsono tidak menjelaskan peran dua orang lainnya yang ditangkap dalam waktu hampir bersamaan itu. Mereka di antaranya adalah S alias T (40), berdomisili di Soyo Jaya, Morowali; SP alias L (28), berdomisili di Kendal, Jawa Tengah.

Kepala Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah Brigadir Jenderal Idham Aziz kemarin mengatakan polisi menangkap tujuh orang anak buah Santoso. Namun, dia tidak bisa menjelaskan siapa saja orang yang ditangkap karena keterbatasan data.

Idham memperkirakan Santoso dan 31 pengikutnya yang telah berbaiat menjadi anggota Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) saat ini masih bersembunyi di hutan.

Menurut Idham, kelompok Santoso berada di pesisir Poso hingga dua kabupaten lain, yakni Parigi dan Napu.

"Wilayah pergerakan mereka ada di dalam hutan seluas sekitar 2.400 kilometer persegi. Mereka semakin terjepit dan logistik semakin berkurang karena personel kepolisian terus mengepung," kata Idham.

Operasi Camar Maleo IV yang digelar khusus untuk menangkap Santoso akan berakhir 9 Januari mendatang. Jika sampai batas waktu itu target utama belum tertangkap, Idham mengatakan kepolisian daerahnya tetap akan menggelar operasi mandiri kewilayahan. (rdk)