Polisi Sebut 3 Perempuan Bima Gabung Kelompok Teroris Santoso

Gentur Putro Jati, CNN Indonesia | Sabtu, 02/01/2016 09:50 WIB
Polisi Sebut 3 Perempuan Bima Gabung Kelompok Teroris Santoso Suwarni, istri dari pemimpin kelompok teroris Santoso difoto di depan rumahnya di Poso, 19 Desember 2015. (REUTERS/Kanupriya Kapoor)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Tengah menyebut ada tiga orang perempuan asal Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) yang bergabung dengan kelompok sipil bersenjata Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Santoso di hutan-hutan wilayah Poso Pesisir, Kabupaten Poso.

Kapolda Sulteng Brigjen Pol Idham Aziz mengatakan tiga perempuan itu adalah istri dari Santoso, Basri, dan Ali Kalora, tiga petinggi kelompok teroris yang terus diburu polisi.

“Tiga perempuan tersebut merupakan janda mujahidin asal Bima, Nusa Tenggara Barat. Ketiga perempuan tersebut diberikan inisial Umi Fadel, Umi Mujahid dan Umi Delima,” kata Idham, dikutip dari kantor berita Antara, Kamis (2/1).


Idham menjelaskan bahwa mereka masuk ke wilayah Sulteng dan kemudian bergabung bersama kelompok Santoso dan anggotanya untuk membalaskan dendam mantan suami mereka yang lebih dulu meninggal dunia.

"Berdasarkan data intelejen, tiga perempuan itu berasal dari Bima. Mereka tidak mau turun dari Poso dan ingin bersama-sama suaminya saat ini. Kata mereka, lebih baik mati sahid mendampingi suami-suaminya di sana," ungkapnya.

Hingga saat ini, Polda belum bisa memastikan tiga perempuan tersebut masuk melalui jalur mana hingga akhirnya bisa bergabung bersama kelompok Santoso Cs.

"Wilayah pergerakan mereka ada di dalam kawasan hutan seluas sekitar 2.400 kilometer persegi. Sehingga ada banyak jalan untuk masuk, yang tidak seluruhnya bisa diawasi aparat," ujar Idham.

Walaupun demikian, Polda sudah memastikan kalau mereka tidak bisa keluar jauh meninggalkan Poso dan hanya bisa beraktivitas di hutan pegunungan Poso. Hal tersebut dikarenakan posisi mereka semakin terjepit, logistik semakin kurang dan personel keamanan terus mengepung.

Polisi, kata Idham, tidak akan berhenti mengejar mereka sampai semuanya tertangkap.

“Setelah operasi Camar Maleo IV-2015 berakhir pada 9 Januari 2016, Polda Sulteng akan melanjutkannya dengan operasi mandiri kewilayahan," ujarnya. (gen)