Operasi Camar Maleo Usai, Teroris Santoso Tak Juga Tertangkap

Rinaldy Sofwan Fakhrana, CNN Indonesia | Sabtu, 09/01/2016 19:45 WIB
Operasi Camar Maleo Usai, Teroris Santoso Tak Juga Tertangkap Sejumlah personil Brigade Mobil (Brimob) dengan senjata lengkap bersiaga diatas truk pasukan menuju beberapa titik lokasi dalam Operasi Camar Maleo 2 di Poso, Sulawesi Tengah, Sabtu (16/5). Sekitar 1000 personil aparat kepolisian diturunkan dalam operasi Mabes Polri tersebut akan melakukan operasi lanjutan selama dua bulan ke depan, terdiri 600 personil Resimen Kelapa Dua, Brimob Polda Sulteng 367 orang dan ditambah kepolisian Polres Poso. (Antara Foto/Zainuddin MN)
Jakarta, CNN Indonesia -- Hari ini, Sabtu (9/1), rangkaian operasi perburuan teroris Mujahidin Indonesia Timur di Sulawesi Tengah resmi berakhir. Namun, pimpinan kelompok tersebut, Santoso alias Abu Wardah, belum juga tertangkap.

Operasi yang berlangsung sejak awal 2015 itu diberi sandi Camar Maleo. Operasi ini dilaksanakan secara bergelombang, dengan Operasi Camar Maleo IV sebagai pamungkas.

Kepala Polri Jenderal Badrodin Haiti mengatakan dalam rangkaian operasi tersebut ada sekitar 28 orang tertangkap termasuk dua orang unsur pimpinan kelompok teroris tersebut.


CNN Indonesia mencatat, salah satu dari unsur pimpinan itu adalah Daeng Koro. Sementara itu, identitas seorang lainnya masih belum terungkap.
Karena itu, meski Santoso tidak tertangkap, Badrodin menampik ini adalah sebuah bentuk kegagalan.

"Ya Santoso ini kan merupakan target utama. Tapi bukan berarti ketika Santoso tertangkap kami akan berhenti, karena Santoso meninggal yang lain akan muncul.

"Oleh karena itu kita evaluasi tidak diukur dari itu. Tapi seberapa jauh efektivitas gerakan yang mereka lakukan terutama dalam mengganggu keamanan," kata Badrodin.

Badrodin juga mengatakan pihaknya sudah merapatkan tindak lanjut berakhirnya operasi ini. "Sudah ada gambaran soal alternatif-alternatif yang jelas," ujarnya,
Nantinya, bisa jadi operasi selanjutnya bisa dilakukan di bawah komando dari pusat ataupun daerah. Apapun alternatif yang diambil, kata Badrodin, yang penting operasi berjalan efektif.

Jika nantinya operasi kembali dilakukan di bawah komando dari pusat, kata Badrodin, maka akan ada tindakan yang diperketat. Selain itu, kekuatan juga akan ditambah sesuai dengan evaluasi.

"Bahan evaluasi ini akan kita ambil untuk membuat keputusan selanjutnya," ujarnya.

Nama Santoso masuk ke dalam daftar teratas buronan teroris kepolisian sejak mengotaki penyerbuan dan pembunuhan terhadap tiga polisi di BCA Palu pada 25 Mei 2011.
Selain itu, Santoso melakukan serentetan aksi teror di Poso setahun setelahnya. Dia menculik dua anggota Polisi Resor Poso yang melintas di Dusun Tamanjeka untuk menjebak petugas lainnya dengan ranjau.

Belum lama ini, sebuah akun media sosial Facebook juga mengunggah video yang disebut sebagai suara Santoso mengancam akan menyerang Istana dan Kepolisian Jakarta. Polri dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme menduga kuat suara tersebut memang keluar dari mulut si pentolan teroris. (pit/pit)