Operasi yang berlangsung sejak awal 2015 itu diberi sandi Camar Maleo. Operasi ini dilaksanakan secara bergelombang, dengan Operasi Camar Maleo IV sebagai pamungkas.
Kepala Polri Jenderal Badrodin Haiti mengatakan dalam rangkaian operasi tersebut ada sekitar 28 orang tertangkap termasuk dua orang unsur pimpinan kelompok teroris tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ya Santoso ini kan merupakan target utama. Tapi bukan berarti ketika Santoso tertangkap kami akan berhenti, karena Santoso meninggal yang lain akan muncul.
Badrodin juga mengatakan pihaknya sudah merapatkan tindak lanjut berakhirnya operasi ini. "Sudah ada gambaran soal alternatif-alternatif yang jelas," ujarnya,
Jika nantinya operasi kembali dilakukan di bawah komando dari pusat, kata Badrodin, maka akan ada tindakan yang diperketat. Selain itu, kekuatan juga akan ditambah sesuai dengan evaluasi.
"Bahan evaluasi ini akan kita ambil untuk membuat keputusan selanjutnya," ujarnya.
Nama Santoso masuk ke dalam daftar teratas buronan teroris kepolisian sejak mengotaki penyerbuan dan pembunuhan terhadap tiga polisi di BCA Palu pada 25 Mei 2011.
Lihat juga:Polisi Bekuk Tujuh Teroris Anak Buah Santoso |
Belum lama ini, sebuah akun media sosial Facebook juga mengunggah video yang disebut sebagai suara Santoso mengancam akan menyerang Istana dan Kepolisian Jakarta. Polri dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme menduga kuat suara tersebut memang keluar dari mulut si pentolan teroris. (pit)