Gatot menargetkan, pembersihan harus sudah selesai dilakukan bulan Juni mendatang. Ia mengancam akan menjatuhkan sanksi berat kepada setiap atasan kesatuan jika target terebut tidak tercapai.
"Setelah bulan Juni, jika masih tetap ada penyalahgunaan narkoba, komandannya saya pecat," kata Gatot di Monumen Nasional, Jakarta, Selasa (1/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau sudah kena narkoba lebih baik dipecat sehingga benar-benar bersih," ucap Gatot.
Atas persoalan kesejahteraan itu, Gatot menduga, beberapa personel TNI tergiur masuk ke bisnis jual-beli narkoba yang ilegal. Ia berkata, hal itu didukung banyaknya jaringan yang memanfaatkan TNI-Polri sebagai sarana perlindungan atas bisnis gelap.
"Iya, tapi tidak semua prajurit (akan dilakukan tes) random saja. Karena kalau semuanya biayanya nggak ada, mahal," ujar Gatot.
Merujuk kasus keterlibatan anggota Komando Cadangan Strategis TNI Angkatan Darat baru-baru ini, Gatot mengatakan, setelah pengembangan terdapat 18 orang yang diduga menggunakan narkoba.
Sementara itu, Kepala Staf TNI AD Jenderal Mulyono mengatakan, kasus keterlibatan anggotanya pada bisnis narkoba masih pada tahap pengembangan. Dia berkata, TNI akan tetap memimpin proses hukum terhadap kejahatan narkotik yang dilakukan tentara.
"Itu kan sedang dikembangkan. Pokoknya selagi dia tentara, ya tentara yang nangani. Pilih mana, dia jadi tentara nanti bunuh kamu atau jadi preman kami yang gebukin," ujar Mulyono.
Ketiga anggota yang kemudian ditangkap itu adalah Sertu Anton Siregar, Kopka Nasikun dan Kopka Bambang. Anton dan Bambang positif menggunakan amphetamin dan methamin, sementara Nasikun disebut mengkonsumsi morfin.
Nasikun belakangan mengaku baru saja menegak obat batuk ketika tes urin itu dilakukan.
Di sisi lain, hasil pemeriksaan juga menyebut Bambang terindikasi mengedarkan narkotik serta melindungi bandar togel. (abm)