Direktur Gizi Masyarakat Kementerian Kesehatan Doddy Izwardy mengatakan kategori akut-kronis merupakan tingkat terparah dalam permasalahan gizi. "Akut-kronis mengindikasikan 20 persen atau lebih balita menderita stunting (pendek) dan 5 persen atau lebih menderita wasting (kurus)," kata Doddy, Jumat (18/3).
Secara total, balita yang menderita gizi buruk di Indonesia sebanyak 3.8 persen dan gizi kurang sebesar 14.9 persen. Sementara, 3.7 persen tergolong sangat kurus dan 8.2% masuk kategori kurus. Sedangkan, 10.1 % digolongkan sangat pendek dan 18.9 persen dikategorikan pendek. Penderita gizi kurang terbanyak berada di Sulawesi Tenggara, balita pendek terbanyak di Nusa Tenggara Timur, dan balita kurs di Papua.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengatasi permasalahan gizi ini, Kementerian Kesehatan melakukan upaya pencegahan secara langsung dan tidak langsung. "Mulai dari pelayanan kehamilan, pemberian tambahan makanan pada ibu hamil yang kurang energi kronik, sampai inisiasi menyusui dini dan ASI ekslusif telah dilakukan," kata Dirjen Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan Anung Sugihantoro.
Kementerian Kesehatan juga akan bekerjasama dengan Millenium Challenge Account (MCA) untuk memaksimalkan pencegahan secara langsung dan tidak langsung.
Setiap tahunnya, Kementerian Kesehatan menargetkan untuk mengurangi angka permasalahan gizi sebesar 2% per tahun. (bag)