Kepada CNNIndonesia.com, Jumat (18/4), Rudy menjelaskan, sejumlah warga beretnis Uighur tersebut meringankan urusan logistik kelompok pimpinan Santoso alias Abu Wardah tersebut.
Meskipun berada di tengah hutan, menurut Rudy, markas kelompok Santoso pun tak kekurangan barang kebutuhan sehari-hari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih dari itu, Rudy enggan berbicara tentang kabar yang menyebut beberapa warga etnis Uighur itu turut memasok persenjataan bagi Santoso dari luar negeri.
Menurut penelusuran, tujuh orang yang berasal dari suku minoritas China itu yang terdeteksi berada di Poso sejak 2014. Empat orang dari mereka, yang membawa paspor Turki, ditangkap di Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Tahun 2015, mereka divonis hukuman penjara selama enam tahun.
Keempatnya adalah Ahmed Bozoglan, Ahmet Mahmut, Altinci Bayram dan Tuzer Abdul Basit. Majelis hakim ketika itu berkesimpulan, mereka terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar Undang-Undang Terorisme dan Undang-Undang Keimigrasian.
Kepala Satuan Tugas Operasi Tinombala Komisaris Besar Leo Bona Lubis membenarkan informasi tersebut. "Mereka sudah lama, sejak 2014 sudah ada di sana," ujarnya.
Leo mengatakan, Santoso dan anak buahnya sudah dalam posisi terjepit sejak Februari lalu. Walau demikian, kata dia, medan yang sulit membuat petugas kesulitan. "Mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa kami tangkap," ujarnya.
Kekuatan Santoso juga kini sudah mulai terpangkas. Pasukan teroris yang pada 2015 lalu diperkirakan berjumlah 40 orang kini tersisa 25-30 orang, kata Leo.