Warga Suku Uighur Disebut Membantu Kelompok Santoso

Rinaldy Sofwan Fakhrana, CNN Indonesia | Jumat, 18/03/2016 19:43 WIB
Warga Suku Uighur Disebut Membantu Kelompok Santoso Sejumlah personil Resimen 2 Pelopor Korps Brimob Mabes Polri dibantu waga setempat memasang baliho Daftar Pencarian Orang (DPO) kelompok sipil bersenjata didesa Tangkura, Poso Pesisir, Poso, Sulawesi Tengah, Sabtu (14/3). Kepolisian Resor Poso kembali merilis sedikitnya 17 orang yang dianggap berbahaya karena terlibat dengan sejumlah kekerasan bersenjata di sekitar Poso termasuk pimpinanya Santoso. (ANTARA FOTO / ZAINUDDIN MN)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kepala Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah Brigadir Jenderal Rudy Sufahriadi mengatakan, kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur yang bermarkas di Poso sangat terbantu dengan kehadiran warga asing beretnis Uighur.

Kepada CNNIndonesia.com, Jumat (18/4), Rudy menjelaskan, sejumlah warga beretnis Uighur tersebut meringankan urusan logistik kelompok pimpinan Santoso alias Abu Wardah tersebut.

Meskipun berada di tengah hutan, menurut Rudy, markas kelompok Santoso pun tak kekurangan barang kebutuhan sehari-hari.


"Di bidang logistik mereka bisa sangat membantu Santoso karena bangsa Uighur itu katanya lebih kuat. Selain itu, dengan kehadiran mereka, anggota kelompok Santoso juga bertambah," kata Rudy.

Lebih dari itu, Rudy enggan berbicara tentang kabar yang menyebut beberapa warga etnis Uighur itu turut memasok persenjataan bagi Santoso dari luar negeri.

Rudy beralasan, hal itu terlalu teknis sehingga itu tidak dapat menjelaskannya kepada publik. "Tapi soal senjata, mereka juga bisa pakai senjata tajam. Yang jelas kehadiran mereka sangat membantu," kata dia.
Berdasarkan informasi dan catatan CNNIndonesia.com, saat ini masih terdapat satu warga etnis Uighur yang bergabung dengan kelompok Santoso.

Menurut penelusuran, tujuh orang yang berasal dari suku minoritas China itu yang terdeteksi berada di Poso sejak 2014.  Empat orang dari mereka, yang membawa paspor Turki, ditangkap di Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Tahun 2015, mereka divonis hukuman penjara selama enam tahun.

Keempatnya adalah Ahmed Bozoglan, Ahmet Mahmut, Altinci Bayram dan Tuzer Abdul Basit. Majelis hakim ketika itu berkesimpulan, mereka terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar Undang-Undang Terorisme dan Undang-Undang Keimigrasian.
Sementara itu, dua orang lainnya ditemukan polisi dalam keadaan tewas belum lama ini.

Kepala Satuan Tugas Operasi Tinombala Komisaris Besar Leo Bona Lubis membenarkan informasi tersebut. "Mereka sudah lama, sejak 2014 sudah ada di sana," ujarnya.

Leo mengatakan, Santoso dan anak buahnya sudah dalam posisi terjepit sejak Februari lalu. Walau demikian, kata dia, medan yang sulit membuat petugas kesulitan. "Mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa kami tangkap," ujarnya.

Kekuatan Santoso juga kini sudah mulai terpangkas. Pasukan teroris yang pada 2015 lalu diperkirakan berjumlah 40 orang kini tersisa 25-30 orang, kata Leo.
(abm/utd)