Ketua Ombudsman Amzulian Rifai mengatakan, hal pertama yang perlu mendapat perhatian oleh pemerintah terkait dengan sosialisasi nilai-nilai perlindungan terhadap perempuan dan anak, serta kaum disabilitas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Padahal kekerasan seksual saja bisa terjadi bila kita berkomentar terhadap fisik seseorang. Di negara maju sudah memiliki mekanisme yang baik," ujarnya.
Selain itu penegakan hukum saat ini juga belum menimbulkan efek jera dan masih terjadi kongkalikong. "Terkadang sifatnya mencari keadilan yang sifatnya egalistik," ujar Amzulian.
Oleh karena itu Ombudsman sebagai lembaga perlindungan terhadap pelayanan publik mengimbau agar lembaga hukum atau kementerian terkait bisa membenahi permasalahan tersebut.
Minim Pelaporan Kekerasan Seksual
Amzulian memaparkan, berdasarkan evaluasi per bulan Mei 2016, baru ada 15 laporan atas buruknya pelayanan lembaga dalam menindaklanjuti kasus kekerasan seksual terhdap perempuan, anak, dan disabilitas.
Minimnya pelaporan atas kasus tersebut bukan berarti pelayan publik di lembaga hukum telah berjalan dengan baik.
Pasalnya, sesuai dengan Pasal 6 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2008, Ombudsman hanya berfungsi mengawasi pelayanan publik yang dilaksanakan oleh penyelenggara, baik di tingkat pusat hingga daerah.
"Peran Ombudsman ketika lembaga penegak hukum tidak melayani pelapor dengan baik. Jika ada diskriminasi dalam mekanisme di lembaga hukum itu," ujarnya. (sur)