“Rekonsiliasi dengan siapa? Dengan orang PKI? Orangnya sudah pada mati kok, enggak usahlah,” kata Ryamizard saat berpidato pada Simposium Nasional ‘Mengamankan Pancasila dari Ancaman Kebangkitan Partai Komunis Indonesia dan Ideologi Lain’ di Balai Kartini, Jakarta, Kamis (2/6).
Ryamizard juga meminta Presiden Jokowi bersikap bijak atas rekomendasi yang diberikan dua panitia simposium berbeda, yakni simposium yang ia hadiri saat ini, dan Simposium Nasional Membedah Tragedi 1965 melalui Pendekatan Kesejarahan yang berlangsung di Hotel Aryaduta, Jakarta, April lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dia (Obama) enggak minta maaf tuh. Padahal berapa juta yang sudah dibom atom, rusak semua. Ini pemberontak (PKI) pantas-pantas saja mati," ujar Ryamizard.
"Jangan katakan pemerintah akan minta maaf. Pemerintah yang mana? Itu isu. Itu pengkhianat pada pemerintah. Tidak akan pemerintah minta maaf," kata Gatot.
Berbeda dengan Simposium Membedah Tragedi 1965, simposium kali ini disebut digelar berdasarkan pendekatan ideologi, bukan kesejarahan. Simposium itu digagas Gerakan Bela Negara, sejumlah ormas Islam, berbagai organisasi purnawirawan TNI-Polri, dan beberapa unsur kepemudaan.
“Kami mengoreksi pendekatan kesejarahan karena pendekatan kesejarahan terlalu banyak versi sehingga tidak akan ketemu. Yang kami lakukan adalah pendekatan ideologi. Kalau sama-sama mengakui Pancasila, mestinya ketemu,” ujar Ketua Panitia Pelaksana simposium itu, Letnan Jenderal Purnawirawan Kiki Syahnakri.
Menanggapi ucapan Kiki tersebut, Ketua Panitia Pengarah Simposium Membedah Tragedi 1965 yang juga Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional Letnan Jenderal Purnawirawan Agus Widjojo berkata, kedua simposium sesungguhnya memiliki satu tujuan, yakni untuk merumuskan penyelesaian kasus hak asasi manusia masa lalu. (agk)