Volume Sampah Jakarta di Bantargebang Melonjak Jadi 7.000 Ton

Suriyanto , CNN Indonesia | Rabu, 15/06/2016 06:03 WIB
Volume Sampah Jakarta di Bantargebang Melonjak Jadi 7.000 Ton Volume sampah Jakarta di TPST Bantargebang meningkat menjadi 7 ribu ton per hari. (CNN Indonesia/ Eky Wahyudi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sampah DKI Jakarta yang dibuang ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi melonjak hingga 7 ribu ton perhari. Jumlah ini diluar kontrak kerja pengelolaan yang hanya 2 ribu ton setiap harinya.

Managing Director PT Godang Tua Jaya Dauglas J Manurung mengatakan, lonjakan volume sampah ini terjadi sejak April. Godang Tua Jaya merupakan TPST Bantargebang. Lonjakan ini terjadi sejak dibebaskannya operasional truk sampah DKI Jakarta selama 24 jam.

"Lonjakan sampah warga DKI saat ini rata-rata mencapai 7 ribu ton per hari atau melonjak dari kesepakatan kontrak kerja yakni 2 ribu ton per hari," kata Dauglas di Bekasi, Selasa (14/6) seperti diberitakan Antara.

Lonjakan volume sampah ini menurut Douglas berdampak pada pengolahan gas metana. Godang Tua Jaya saat ini kesulitan mengolah gas metana menjadi tenaga listrik sebagai salah satu kewajiban pengelola.

Gas metana itu hanya muncul dari pembusukan sampah-sampah yang lama diendapkan. "Kalau sampah lamanya terus menerus ditumpuk dengan lapisan baru, maka gas metananya akan hilang," katanya.

Sementara itu pemerhati lingkungan dari Koalisi Persampahan Nasional Benny Tunggul mengatakan, kelebihan pembuangan sampah tersebut dinilai berlawanan dengan master plan persampahan Pemprov DKI Jakarta 2012-2032.

"DKI telah gagal membangun Intermediate Treatment Facilities (ITF) di tiga wilayah Jakarta, yakni di Sunter, Cakung Cilincing dan Marunda yang sebelumnya ditargetkan mampu mengolah sampah di hulu masing-masing 1.500 ton per hari," kata Benny.

Proyek ITF Pemprov DKI Jakarta sejak 2012 menurut Bennt tak terlaksana, bahkan kini nyaris tak terdengar kabarnya. Akibatnya, Bantargebang selalu jadi tumpuan pembuangan sampah ibu kota.

Semestinya, kata dia, ITF ini akan menggunakan teknologi thermal untuk incenerator, mampu mengolah sampah Jakarta sebesar 1.000 hingga 1.500 ton per hari dengan menghasilkan listrik 15 megawatt.

"Jika ketiganya selesai dibangun 2017, sekitar 4.000 ton sampah per hari dapat diolah di dalam kota, ujar Benny. Dalam perkiraanya, pengoperasian tiga pengolahan sampah itu bisa mengurangi 17 persen sampah yang selama ini ada di Jakarta.