Managing Director PT Godang Tua Jaya Dauglas J Manurung mengatakan, lonjakan volume sampah ini terjadi sejak April. Godang Tua Jaya merupakan TPST Bantargebang. Lonjakan ini terjadi sejak dibebaskannya operasional truk sampah DKI Jakarta selama 24 jam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gas metana itu hanya muncul dari pembusukan sampah-sampah yang lama diendapkan. "Kalau sampah lamanya terus menerus ditumpuk dengan lapisan baru, maka gas metananya akan hilang," katanya.
"DKI telah gagal membangun Intermediate Treatment Facilities (ITF) di tiga wilayah Jakarta, yakni di Sunter, Cakung Cilincing dan Marunda yang sebelumnya ditargetkan mampu mengolah sampah di hulu masing-masing 1.500 ton per hari," kata Benny.
Proyek ITF Pemprov DKI Jakarta sejak 2012 menurut Bennt tak terlaksana, bahkan kini nyaris tak terdengar kabarnya. Akibatnya, Bantargebang selalu jadi tumpuan pembuangan sampah ibu kota.
Semestinya, kata dia, ITF ini akan menggunakan teknologi thermal untuk incenerator, mampu mengolah sampah Jakarta sebesar 1.000 hingga 1.500 ton per hari dengan menghasilkan listrik 15 megawatt.
"Jika ketiganya selesai dibangun 2017, sekitar 4.000 ton sampah per hari dapat diolah di dalam kota, ujar Benny. Dalam perkiraanya, pengoperasian tiga pengolahan sampah itu bisa mengurangi 17 persen sampah yang selama ini ada di Jakarta. (sur/antara)