DPR Mencatat Kemacetan 'Brexit' Jadi Kemacetan Paling Parah

Hafizd Mukti, CNN Indonesia | Kamis, 07/07/2016 14:01 WIB
DPR Mencatat Kemacetan 'Brexit' Jadi Kemacetan Paling Parah Kendaraan terjebak macet di exit Tol Pejagan - Brebes Timur, Jawa Tengah, Kamis (30/6). (Antara Foto/Oky Lukmansyah)
Jakarta, CNN Indonesia -- Komisi V DPR RI mencatat kemacetan di pintu keluar tol Brebes atau sekarang dikenal dengan istilah 'Brexit' adalah kemacetan paling parah sepanjang sejarah mudik di Indonesia. Setidaknya kendaraan terjebak nyaris 48 jam untuk bisa keluar dari kemacetan.

Anggota Komisi V DPR RI Nizar Zahro mengatakan seharusnya Tim Nasional Mudik 2016 yang diketuai Kementerian Perhubungan bisa melakukan kalkulasi dan prediksi atas kemacetan di Brebes.

"Arus mudik di tol Brexit kami catat yang terparah sepanjang sejarah mudik, pemudik terjebak sampai dua hari dua malam. Ada yang sampai kencing di situ (lokasi tol), rest area belum beroperasi dan kesulitan lainnya," kata Nizar kepada CNNIndonesia.com, Kamis (7/7).


Terkait hal itu, Komisi V berencana memanggil Jajaran Kementerian Perhubungan termasuk Ignasius Jonan selaku menterinya dan kementerian lain juga lembaga yang terkait dengan pengaturan arus mudik.

"Itu akan segera kami lakukan. Senin pekan depan setelah reses akan kami lakukan segera soal kemacetan ini."

Seharusnya, Kementerian Perhubungan selaku kepala tim pengelolaan arus mudik bisa memberikan perintah kepada pihak pengelola tol terkait kesiapan mereka. Tak hanya itu, seharusnya jajaran pimpinan Jonan itu bisa menganbil keputusan agar Brexit tidak digunakan jika dinilai tidak siap.

"Jangan karena operator bilang siap, Kemenhub memberikan izin. Seharusnya Jonan melihat apakah ini layak atau tidak untuk menampung jutaan kendaraan yang akan keluar di Brebes?"

Sebelumnya diberitakan ada 12 orang meninggal dunia akibat dampak dari kemacetan panjang di pintu keluar tol Brebes. Meskipun diduga korban jiwa akibat penyakit yang telah dimiliki, namun kemacetan parah sangat mungkin menjadi penyebab kematian, akibat kelelahan dan dehidrasi.

Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes RI Achmad Yurianto menjelaskan ada beberapa faktor yang dapat menjadi penyebab adanya korban yang meninggal. Kelelahan dan kekurangan cairan jadi faktor lain yang berdampak fatal saat mengarungi kemacetan.

"Kelelahan dan kekurangan cairan dapat berdampak fatal. Apalagi pada kelompok rentan anak-anak, orang tua, pemudik dng penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes, jantung dapat meningkatkan risiko," kata Achmad dalam keterangan yang diterima CNNIndonesia.com, Kamis (7/7)

Tak hanya itu kondisi kabin kendaraan yang relatif sempit serta tertutup dengan pemakaian pendingin udara yang menerus akan menurunkan oksigen serta naiknya CO2," ungkap Achmad.

Sebelumnya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana merilis ada 12 korban tewas akibat terdampak kemacetan. Salah satunya adalah bayi berusia 1,4 tahun bernama Azizah asal Kutoarjo yang meninggal dengan penyebab apnoea causa CO2 toxic atau terpapar CO2 karena terjebak dalam mobil di tengah kemacetan lebih dari enam jam. (pit/pit)