Polri Sebut Ali Kalora Jadi Pengganti Santoso

Christie Stefanie, CNN Indonesia | Selasa, 19/07/2016 14:37 WIB
Polri Sebut Ali Kalora Jadi Pengganti Santoso Kapolda Sulteng Brigjen Rudy Sufahriadi di Mabes Polri, Jakarta, Kamis (10/3). (CNN Indonesia/Rinaldy Sofwan Fakhrana)
Jakarta, CNN Indonesia -- Polisi menyebut teroris Ali Kalora dapat menjadi pemimpin baru jika pemimpin kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT), Santoso, dan tangan kanannya, Basri, dipastikan tewas akibat baku tembak di Poso, Sulawesi Tengah, kemarin.

"Selama ini kan memang dia (Ali Kalora) paling senior dan paling lama jadi teroris di sana (Poso)," kata Kepala Polda Sulawesi Tengah Brigadir Jenderal Rudy Sufahriadi di Kompleks Istana Kepresidenan, Selasa (19/7).

Namun dia mengatakan, calon kuat lainnya ialah Firdaus alias Daus alias Barok alias Rangga. Kedua orang ini menjadi buronan, termasuk Santoso yang jadi pimpinan kelompok bersenjata di Pegunungan Biru, Poso.


Awalnya, total DPO berjumlah 21 orang dan terbagi dua kelompok yang beranggotakan lima dan 16 orang. Lima orang ini yang diduga terlibat baku tembak bersama tim Alpha. Santoso dan Basri diduga tewa tertembak kemarin.

Lima orang itu ialah Santoso, Jamiatun Muslim alias Atun alias Bunga alias Umi Delima (istri Santoso), Basri, Nurmi Usman alias Oma (istri Basri), dan satu lelaki.

Sementara itu, 16 orang lainnya dipimpin Ali Kalora dan istrinya, Tini Susantika alias Umi Farel.

Mantan Kapolres Poso ini berpendapat kekuatan kelompok teroris yang menjadi target pemerintah selama beberapa tahun akan menurun terutama setelah dipastikan Santoso dan Basri tewas dalam penembakan kemarin.

Sementara itu, Kepala Polri Jenderal Tito Karnavian mengatakan, Basri dan Santoso masih berperan paling penting dalam kelompok ini. Menurutnya, Ali Kalora tidak berkompetensi seperti Santoso dan Basri.

"Ali Kalora ada senjata tapi tidak memiliki kemampuan dan leadership seperti Basri dan Santoso," ucap Tito.

Tetapi dia berpendapat, kaderisasi bisa terjadi apabila aparat dan pemerintah menghentikan operasi penanggulangan terorisme di Poso sehingga operasi terus dilakukan sekaligus menetralisir ideologi radikal pro-kekerasan di Poso.

"Iya berlanjut terus sampai nanti yang Ali Kalora yang bersenjata kami bisa lemahkan," kata Mantan Kepala Densus 88 Antiteror ini.

Dia menduga, kelompok ini tinggal memiliki sedikit persenjataan seperti tiga hingga empat senjata rakitan dan satu senjata pabrikan.

(obs/obs)