Komnas HAM: Polisi Lalai Cegah Rusuh Tanjungbalai

Prima Gumilang, CNN Indonesia | Kamis, 11/08/2016 17:31 WIB
Komnas HAM: Polisi Lalai Cegah Rusuh Tanjungbalai Ketua Tim Pemantauan dan Penyelidikan Peristiwa Tanjungbalai, Natalius Pigai. (CNN Indonesia/Gautama Padmacinta)
Jakarta, CNN Indonesia -- Komisi Nasional Hak Asasi Manusia menilai aparat kepolisian melakukan beberapa kelalaian dalam peristiwa perusakan dan pembakaran rumah ibadah di Kota Tanjungbalai, Sumatera Utara. Hari ini, Komnas HAM menyampaikan laporan pemantauan dan penyelidikan kasus tersebut.

Ketua Tim Pemantauan dan Penyelidikan Peristiwa Tanjungbalai, Natalius Pigai mengatakan ketidaksiapsiagaan itu dilakukan oleh Kepolisian Resor Tanjungbalai maupun kepolisian resor yang berbatasan dengan Kota Tanjungbalai dalam mengantisipasi kerusuhan massa yang berbau SARA.

“Penanggung jawab keamanan belum mampu mengorganisir kekuatan internal aparat keamanan dan tidak mampu mengendalikan amuk masa di Kota Tanjungbalai,” kata Natalius di kantor Komnas HAM, Jalan Latuharhary, Jakarta, Kamis (11/8).


Selain itu, kata Natalius, aparat keamanan juga dinilai lamban mengantisipasi amuk massa sehingga menyebabkan rusak dan terbakarnya 15 bangunan yang terdiri dari rumah ibadah dan rumah pribadi.

“Kehadiran aparat keamanan ke lokasi rumah ibadah setelah satu sampai dua jam pasca perusakan dan pembakaran,” ujarnya.

Hasil penyelidikan lapangan juga menunjukkan bahwa aparat intelijen tidak mampu melakukan deteksi dini adanya potensi konflik berbau SARA. Menurutnya, peristiwa itu bisa dicegah karena ada jeda waktu selama satu minggu antara peristiwa pembakaran dengan keberatan seorang warga atas suara azan.

Kronologi Kejadian

Sebelum peristiwa penyerangan dan pembakaran di Tanjungbalai pada 29 Juli lalu, sekitar satu minggu sebelumnya Meliana (41) warga Jalan Karya, Tanjungbalai, berbelanja roti ke warung tetangganya milik Uwo (47).

Saat itu Meliana menyampaikan keberatan mengenai suara azan dari Masjid Al-Makshum yang berlokasi di depan rumahnya. Meliana menilai suara azan itu lebih keras dibandingkan waktu sebelumnya.

Dia menyampaikan keluhannya itu karena ayah Uwo, Kasidi, adalah nadzir masjid. Meliana berharap keberatannya itu disampaikan kepada pengurus masjid.  Keberatan Meliana disampaikan Uwo kepada adiknya, Hermayanti (40) dan diteruskan kepada Kasidi.

Pada 29 Juli, usai salat magrib berjamaah sekitar pukul 19.00 WIB, Kasidi menyampaikan keberatan Meliana itu kepada pengurus dewan kesejahteraan masjid, Dailami, disaksikan beberapa jemaah masjid. Setelah menerima informasi itu, mereka berkunjung ke rumah Meliana untuk mengklarifikasi.

Pada saat klarifikasi itu, terjadi perdebatan antara pengurus masjid dengan Meliana. Debat itu mengundang keingintahuan warga sekitar.

Pengurus masjid lalu kembali ke masjid yang kemudian disusul suami Meliana. Dia meminta maaf atas adanya perdebatan istrinya dengan pengurus masjid.

Setelah salat isya sekitar pukul 20.00 WIB, ternyata jumlah massa di sekitar sumah Meliana bertambah banyak. Kepala kampung setempat memutuskan agar permasalahan tersebut diselesaikan di kantor Kelurahan. Kedua belah pihak yang berselisih berkumpul di sana.

Namun, isu yang beredar pada saat itu berubah. Ada warga etnis Tionghoa yang melarang azan, mematikan speaker masjid, sehingga jumlah massa yang mendatangi rumah Meliana dan kantor kelurahan semakin bertambah banyak.

Sekitar pukul 21.00-23.00 WIB, terjadi mediasi dan dialog terkait permasalahan tersebut. Mediasi dilakukan di kantor kelurahan Tanjungbalai Kota I, kantor Kepolisian Sektor Tanjungbalai Selatan, kantor Kepolisian Resor Tanjungbalai.

Hasil mediasi, Meliana dan keluarga telah meminta maaf atas ucapannya yang keberatan dengan suara azan di Masjid Al-Makhsum yang dinilai terlalu keras.

Tak disangka, pada pukul 23.00 WIB, massa yang terus bertambah dan diperkirakan mencapai seribu orang melampiaskan kemarahannya dengan melakukan penyerangan, pengrusakan, dan pembakaran terhadap rumah milik Meliana dan rumah ibadah di kota itu. Kejadian itu berlangsung hingga pukul 03.00 WIB, Sabtu dini hari.

Akibatnya, ada sekitar 15 bangunan yang mengalami pengrusakan dan pembakaran, yang terdiri dari wihara, klenteng, bangunan yayasan, dan rumah Meliana.

Natalius mengatakan, komunikasi antara Meliana dengan Uwo, serta komunikasi lanjutan antara Uwo dengan Heriyanti, dan Kasidi merupakan kata-kata verbal yang tidak bertendensi negatif serta tidak dimaksudkan atau didasarkan pada rasa kebencian terhadap etnis dan agama tertentu.

“Terjadi distorsi informasi yang dilakukan dan disebarluaskan oleh oknum-oknum tertentu yang merupakan upaya provokasi untuk memancing amarah komunitas umat Muslim yang berorientasi pada terciptanya kebencian atas dasar etnis dan agama di Tanjungbalai,” ujar Natalius.

(obs/obs)