Hal ini terungkap saat pemeriksaan kejiwaan yang dilakukan tim psikiatri forensik terhadap Jessica pada Februari lalu.
Natalia mengatakan salah satu pernyataan yang inkosisten adalah ketika Jessica mengaku tak memiliki masalah dengan mantan pacarnya yang bernama Patrick.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saat ditanya, Jessica bilang tidak pernah ada gangguan dengan pacarnya. Itu ada inkosistensi dengan laporan dari kepolisian," ujar Natalia saat memberikan keterangan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis (18/8).
Saat itu Jessica beralasan tengah menjalani rawat inap karena asmanya kambuh. Hal ini juga diperkuat dengan bukti percakapan antara Jessica dengan Hani Juwita Boon melalui whatsapp.
"Tapi saat kami tanya, Jessica bilang asmanya tidak pernah kambuh lagi. Dia juga bilang tidak pernah menjalani rawat inap," katanya.
Jessica juga menyatakan membantu Mirna dengan menggoyang-goyangkan tubuhnya saat Mirna tidak sadar, sesaat setelah meminum kopi di kafe Olivier.
"Saat ditanya lagi apa benar seperti itu, Jessica bilang ingat betul. Berarti dia cukup persisten dengan apa yang dia katakan," ucap Natalia.
Obat Anti Depresan
Pernyataan inkosisten lainnya juga ditemukan saat Jessica mengaku tak memiliki obat anti depresan. Hal ini berbeda dengan riwayat kepolisian NSW yang menyebutkan bahwa Jessica memiliki obat anti depresan.
Kemudian Jessica juga mengaku lebih sering melihat sisi baik daripada sisi buruk dari kepribadian seseorang.
Namun dari hasil pemeriksaan pada rekan kerja Jessica di Australia, Jessica cenderung melihat sisi buruk. Hal ini terlihat ketika Jessica berada dalam kondisi tertekan dan tidak mendapat dukungan yang baik dari keluarganya.
Meski demikian, menurut Natalia, pernyataan inkosisten ini tak lantas menunjukkan kebohongan Jessica. Perbedaan fakta ini, kata dia, hanya menunjukkan perbedaan data dari temuan tim psikiatri forensik dengan hal yang dibicarakan Jessica.
"Pernyataan inkosisten ini mungkin pengingkaran, bisa juga Jessica lupa, atau dia tidak nyaman membicarakannya," tutur Natalia.
Terlepas dari sikap inkosisten Jessica dalam menjawab pertanyaan, Natalia berkata Jessica memiliki potensi intelektual untuk merencanakan, melakukan, hingga mengevaluasi suatu tindakan. Jessica, kata dia, juga dapat memprediksi risiko ketika melakukan suatu tindakan.
"Hal ini yang membuat Jessica terlihat tenang dan mampu menguasai situasi yang dia hadapi," katanya.
(asa)