Senjakala Medan Prijaji yang Tutup Usia Hari Ini

Rosmiyati Dewi Kandi, CNN Indonesia | Senin, 22/08/2016 07:37 WIB
Berawal dari Sarikat Prijaji Ilustrasi. (CNN Indonesia/Laudy Gracivia)

Berawal dari Sarikat Prijaji

Mengutip Karya-Karya Lengkap Tirto, ada lima hal yang mendasari pembentukan Sarikat Prijaji, yaitu mendirikan rumah pemondokan di Betawi sebagai tempat bermalam siswa dan memastikan mereka memperoleh makanan; mendirikan sekolah dasar bagi mereka yang tak diterima di sekolah Belanda.

Alasan lain pendirian Sarikat Prijaji, memastikan para siswa melanjutkan studi agar bisa mendapat pekerjaan layak, memberikan beasiswa kepada siswa cerdas, dan membuat perpustakaan.

Tirto saat itu tahu betul bahwa sulit bagi masyarakat pribumi memperoleh pendidikan dan pekerjaan yang layak. Meski memiliki latar belakang sebagai bangsawan, Tirto merasakan kesusahan rakyat.


“Sengaja perhimpunan ini kita orang dirikan karena nyatalah pada masa sekarang ini susah buat memperoleh rezeki jika kurang pelajaran kami, teristimewa pengajaran bahasa Olanda perlu sekali buat memperoleh pekerjaan yang pantas,” kata Tirto, mengutip sumber yang sama.

Hasil urun rembuk Tirto dengan empat orang tersebut adalah, pembiayaan Sarikat Prijaji akan disokong oleh dana dari pendaftaran masing-masing anggota sebesar f10, kontribusi anggota f0,50, sumbangan pihak lain, dan dari pembayaran uang sekolah dasar yang dibangun Sarikat, serta pembayaran makan, pemondokan, serta produk-produk buatan anak negeri.


Simbol “f” atau bisa juga disebut “fl” berarti guilder Belanda yang berasal dari mata uang lama yaitu florijn. Sebagai wilayah jajahan, mata uang Hindia Belanda menggunakan gulden atau biasa disingkat dengan simbol tersebut.

Setelah publikasi yang masif, lebih dari 700 orang dari seluruh Hindia Olanda menjadi anggota Sarikat Prijaji, bahkan seorang bupati memberi sumbangan f1.000.

Bupati juga sekaligus memberi nasihat, “Perhimpunan ini mesti mempunya surat kabar sendiri. Uang itu kalau dirasa perlu boleh digunakan buat membelanjai surat kabar itu karena jika menunggu perhimpunan berdiri, tentu lambat sekali.”

Menurut bupati, surat kabar yang dia maksud harus dibuat melebihi Soenda Berita dan harus memuat berita politik. Nasihat bupati itu mendapat dukungan dari banyak pihak.

Semakin lama, semakin banyak desakan untuk menerbitkan surat kabar dan mereka menyanggupi untuk menjadi pelanggan tetap. Maka, terbitlah MP pada 1 Januari 1907—dicetak di percetakan Khong Tjeng Bie di Pancoran, Betawi.

Uang sumbangan f1.000 tidak cukup untuk membiayai percetakan MP sehingga dewan redaksi harus juga merogoh kocek sendiri. Dalam artikel Pendahoeloean M.P. Taoen 1909, Tirto menyebut angka kurang lebih f7.500 yang dihabiskan sejak beridirnya MP dua tahun sebelumnya.

Mengutip Sang Pemula, di antara para dermawan yang memberi donasi besar adalah Bupati Cianjur Raden Adipati Aria Prawiradiredja sebesar f1.000 dan ipar Tirto, Pangeran Oesman Sjah—memerintah Pulau Bacan, Maluku, mulai tahun 1900—memberikan f500.

Prawiradiredja menjadi bupati pada 24 Agustus 1864 dan menjabat paling lama di daerah Pasundan. Dia dikenal sebagai hartawan besar dan suka menolong orang tanpa memandang bangsa.

Gajinya sebagai bupati lebih besar di antara semua bupati di seluruh Jawa dan Madura yaitu f3.000 per bulan. Dialah yang menyarankan Tirto menerbitkan surat kabar melebihi Soenda Berita.

Medan Prijaji mengusung delapan asas yang dimuat pada halaman muka edisi pertama, di antaranya menjadi penyuluh keadilan, memberi bantuan hukum, dan tempat orang tersia-sia mengadukan haknya.

Dari asas tersebut, sebuah jargon yang dianggap sangat berani pada masa itu melekat bersama setiap edisi MP: suara bagi sekalian raja, bangsawan asli dan pikiran, priyayi dan saudagar bumiputera dan officer, serta saudagar dari bangsa yang terperintah lainnya yang dipersamakan dengan anak negeri di seluruh Hindia Belanda.

Menurut Pram, konsep penjualan koran yang ditawarkan Tirto terbilang unik. Mereka yang menyatakan bersedia menjadi pelanggan MP diminta membayar lebih dahulu uang langganan satu kuartal, setengah tahun atau satu tahun penuh, yang dianggap Tirto sebagai saham perusahaan.

Gagasan ini, lanjut Pram, tak lain dari menggunakan dana masyarakat dalam berniaga sehingga tidak perlu mengeluarkan modal sendiri. “Pada masanya, langkah yang diambilnya dengan berani itu merupakan sesuatu yang sama sekali baru,” kata Pram.

Keluar dari Jerat Utang

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4