Riset UI: Rokok Murah Bahayakan Si Miskin dan Generasi Muda

Anugerah Perkasa, CNN Indonesia | Senin, 22/08/2016 12:20 WIB
Riset UI: Rokok Murah Bahayakan Si Miskin dan Generasi Muda Ilustrasi remaja yang merokok. PKEKK Universitas Indonesia menyatakan harga rokok murah akan membahayakan kelompok miskin dan generasi muda, sehingga harga dan cukai harus ditingkatkan. (REUTERS/Beawiharta/File Photo)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan (PKEKK) Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia menyatakan harga rokok murah akan membahayakan kelompok miskin dan generasi muda karena akan terus mengkonsumsi, sehingga harga dan cukai harus ditingkatkan.

Peneliti PKEKK Rahma Indira mengatakan pihaknya melakukan penelitian tentang pengendalian konsumsi tembakau sepanjang Desember 2015—Januari 2016. Dia menuturkan terdapat 1.000 responden yang terdiri dari perokok dan bukan perokok.

Dia menuturkan selama ini sekitar 60 persen lebih perokok justru berasal dari kalangan miskin dan sekitar 30 persen lebih anak-anak merokok di bawah usia 10 tahun. Di sisi lain, Rahma menegaskan, rokok di Indonesia dijual murah untuk menarik perokok pemula.


Penelitian PKEKK menemukan 76 persen responden menyatakan akan berhenti merokok jika harga satu bungkus rokok mencapai Rp50.000. Sehingga, Rahma menegaskan, kenaikan harga dan cukai juga akan membantu kelompok miskin tak mengkonsumsi rokok.

“Kenaikan harga rokok memutus rantai kemiskinan dan melindungi generasi muda,” kata Rahma ketika dihubungi CNNIndonesia.com di Jakarta, Senin (22/8).

Dia menyatakan kenaikan harga itu juga akan memaksa kelompok miskin untuk lebih selektif menggunakan pendapatannya. Sedangkan untuk kelompok kaya dan menjadi candu, sambungnya, konsumsi rokok akan terus dilakukan.

Rahma menegaskan rokok juga berhubungan dengan penyakit yang ditimbulkan. Kelompok miskin yang terkena dampak kesehatan, sambungnya, tak akan mampu juga untuk membiayai pengobatan yang dilakukannya.

BPS menyatakan persentase penduduk miskin di pedesaan meningkat dari 14,09 persen per September 2015 menjadi 14,11 persen per Maret 2016 karena peranan komoditas makanan. Jenis komoditas yang berpengaruh di antaranya adalah beras, rokok kretek filter, telur ayam ras dan mie instan.

Oleh karena itu, PKEKK menyatakan, kenaikan harga dan cukai rokok dapat dikembalikan untuk pengendalian konsumsi rokok macam pembayaran Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), melatih petani tembakau untuk peralihan kerja, serta pembinaan generasi muda dalam olah raga serta seni. Selain itu, papar Rahma, juga dapat dialokasikan untuk riset dan promosi kesehatan.

PKEKK menyatakan, semakin murah rokok, maka semakin banyak dikonsumsi dan memperbanyak perokok yang akhirnya membahayakan kesehatan. Oleh karena itu, sambung Rahma, kenaikan harga dan cukai rokok dapat membantu menyelamatkan jutaan jiwa di Indonesia. (asa)