"Perinciannya, 2.024 desa dari 280 kecamatan di 28 kabupaten/kota memiliki titik-titik potensi rawan longsor yang harus diwaspadai," kata Kepala Dinas ESDM Jateng Teguh Dwi Paryono di Semarang, Selasa (27/9), seperti dilansir Antara.
Teguh mengatakan, lembaganya berinisiatif memberikan mitigasi kepada pemerintah daerah, berupa peta potensi kebencanaan, pemasangan alat deteksi dini, dan sosialisasi berbasis teknologi informasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Teguh menyebut masyarakat harus mulai menjalankan prosedur siaga bencana saat melihat aliran keruh di sungai atau mata air yang secara tiba-tiba muncul.
Minggu akhir pekan lalu, tanah longsor terjadi di Dusun Tambak Sari, Sidengkok, Banjarnegara. Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat, longsor itu menimpa sebuah rumah dan menyebabkan seorang warga meninggal dunia.
Juni lalu, longsor juga terjadi di kabupaten tersebut. BNPB melansir data, bencana itu menewaskan setidaknya 35 orang.
Menurut Siti, alih fungsi lahan yang terjadi pada sebagian besar hulu sungai-sungai di Indonesia menurunkan tingkat resapan air dan jumlah vegetasi.
"Akhirnya larinya itu ke bagian hulu. Paling gawat terjadi alih fungsi tanaman di lereng-lereng hulu sungai," ujarnya. (rel)