"Korupsi menjadi hambatan. Birokrasi pemerintahan Indonesia yang sulit beradaptasi dengan tuntutan publik juga menjadi faktor. Negara melemah karena sikapnya sendiri," kata Kholis saat ditemui oleh CNNIndonesia.com.
Kholis menjelaskan, dalam konteks ini korupsi terjadi antara korporasi dengan pemerintah. Ketika pemerintah dan korporasi sudah memiliki hubungan yang saling menguntungkan, kesejahteraan masyarakat tidak menjadi prioritas. Sehingga korporasi menjadi sulit dikendalikan oleh negara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepala Departemen Kajian Pembelaan dan Hukum WALHI Zenzi Suhadi mengaku sudah melihat salinan RUU tersebut. Pasal dalam RUU itu mengamputasi pasal di UU Perkebunan, Lingkungan, Pokok Agraria serta Kehutanan. Ketika disahkan, pelanggaran pidana dan perdata yang dilakukan korporasi tidak bisa dijerat.
Kholis menjelaskan korporasi yang sulit dikendalikan berpeluang melakukan pelanggaran HAM. Berdasarkan data Komnas HAM tahun 2012 tercatat 446 kasus pelanggaran HAM karena konflik dan sengketa agraria. Pada kejadian itu kepentingan antara pemerintah, korporasi dan masyarakat tidak padu.
Itu menjadi bukti kuat bahwa kejahatan korporasi perlu diperhatikan dan harus dikendalikan. Kholis yakin korporasi bisa diajak kerja sama bila menjalankan sistem yang bersih tanpa korupsi.
RUU Perkelapasawitan bukan satu-satunya aturan yang menguntungkan korporasi. Pada sektor pertambangan juga ada aturan serupa. Yaitu revisi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 1/2014 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara yang diusulkan Pelaksana Tugas (Plt) Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Luhut Binsar Pandjaitan.
Kepala Kampanye Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) Melky Nahar menjelaskan lewat revisi itu pemerintah akan memberikan periode relaksasi ekspor selama tiga hingga lima tahun, terhitung sejak 2014. Dengan begitu smelter yang dibangun oleh perusahaan menjadi sia-sia, karena perusahaan diberikan kelonggaran mengekspor bahan mentah.
"Pemerintah ini seperti diatur oleh perusahaan, bukan mengatur perusahaan. Bagi kami upaya nyata pemerintah bernegosiasi dengan perusahaan belum berjalan dengan baik, karena perusahaan itu sendiri yang untung," ujar Melky saat jumpa pers pada Selasa (11/10) lalu.
Sementara itu, birokrasi juga menjadi faktor sulitnya negara mengendalikan korporasi. Kata kholis sistem birokrasi Indonesia yang lambat dianggap tidak efisien oleh korporasi. Sehingga korporasi menghalalkan segala cara.
"Alasan korporasi menyogok karena ingin memotong proses supaya cepat. Bagi korporasi time is money," kata Kholis.
Kholis menjelaskan bahwa pengendalian korporasi yang sulit memang menjadi masalah bagi negara dunia ketiga seperti Indonesia. Laporan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB), kata Kholis, juga menyatakan hal serupa. Korporasi masih menjadi persoanal bagi kebanyakan negara dunia ketiga.
Untuk mengatasi hal ini perlu dibangun sistem yang transparan. Kholis yakin dengan sistem transparan tidak ada tempat bagi aktor untuk mekalukan korupsi. Sistem yang transparan harus diikuti dengan perubahan birokrasi yang lebih mudah.
"Saya objektif saat ini kita punya pemerintah yang bersih dan itu bisa menjadi modal (mengendalikan korporasi). Memang proses di Indonesia lambat, tapi jangan kecewa kita harus berjuang terus," kata Kholis. (rel)