Jokowi Jamin Aparat Tak Tutupi Perkembangan Kasus Ahok

Christie Stefanie & Joko Panji Sasongko, CNN Indonesia | Rabu, 09/11/2016 18:38 WIB
Jokowi Jamin Aparat Tak Tutupi Perkembangan Kasus Ahok Presiden Jokowi menjamin proses hukum terhadap Ahok akan dilakukan secara tegas dan transparan sesuai dengan instruksinya. (CNN Indonesia/Christie Stefanie)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah melalui Kepolisian tidak akan merahasiakan perkembangan penyelidikan kasus dugaan penistaan agama oleh Gubernur DKI Jakarta non-aktif Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Komitmen itu disampaikan Presiden Joko Widodo di hadapan belasan perwakilan organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam.

"Tidak ada yang ditutupi karena kami ingin tidak timbul prasangka," kata Jokowi di Istana Merdeka, Rabu (9/11).

Jokowi juga menyatakan tak akan mengintervensi penyelidikan perkara Ahok. Sebagai Presiden dan mantan pasangan Ahok dalam Pilkada DKI 2012, Jokowi memastikan tidak akan melindungi Ahok.


Di kesempatan itu Presiden juga berterima kasih kepada pimpinan ormas Islam karena turut menyejukkan suasana jelang dan saat demo. Mereka, menurut Jokowi, juga mendinginkan suasana setelah Aksi Bela Islam. Hal-hal seperti ini yang dibutuhkan Indonesia.

"Statement ulama yang menyejukkan di tengah berbagai isu dan ujaran yang malah mempertajam perbedaan di umat dan masyarakat," kata Jokowi.

Ia pun meminta para ulama terus membantu pemerintah membangun kedamaian, mempererat tali persatuan, dan meredakan ketegangan di masyarakat. 

"Kita akan jadikan ini contoh dunia bahwa membangun masyarakat yang bisa hidup rukun, dan damai dalam keberagaman," tuturnya.

Dalam pertemuan dengan sejumlah ormas Islam, Jokowi didampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, dan Menteri Sekretaris Negara Pratikno.

Ormas yang hadir di antaranya KAHMI, Muslimat NU, Syarikat Islam , Al Irsyad Al Ismaliyah, Jam'iyatul Washliyah, Ikadi, Perti, Majelis Rasullullah, dan Nasyiatul Aisyiah.

HMI Pertanyatakan Bukti Polisi

Sementara itu, pengacara Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Eggy Sudjana meragukan bukti yang dimiliki Kepolisian berupa rekaman gambar untuk menetapkan kelima kader HMI sebagai tersangka provokasi aksi unjuk rasa 4 November lalu. 

Menurut Eggy, bukti itu tidak berdasar karena dirinya juga ikut hadir dalam aksi tersebut.

"Tuduhan serius kepada teman-teman HM​​I tidak berdasar. Karena secara faktual di lapangan saya berada juga di sana dan tidak ada yang membuktikan itu," ujar Eggy di Markas Polda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (9/11).

Eggy mengatakan, dirinya yang kala itu ikut dalam aksi tidak melihat massa HMI melakukan provokasi. Sebaliknya, ia menyebut ada aktor intelaktual di balik aksi unjuk rasa yang ditujukan agar Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mendapat sanksi hukum karena diduga telah menistakan agama.

Saat ditanya siapa aktor di balik kericuhan tersebut, Eggy enggan berkomentar. Ia menyerahkan sepenuhnya kepada Kepolisian untuk menyelidiki dugaan tersebut.

"HMI partisipasi saja waktu itu. Itu hanya solidaritas untuk energi Al Maidah Ayat 51, bukan mau yang lain," ujarnya.

Sebelumnya, Polda Metro Jaya menangkap kelima anggota HMI itu pada beberapa lokasi berbeda di Jakarta dan sekitarnya pada Senin (7/11) tengah malam.

Setelah menjalani pemeriksaan, kelima mahasiswa itu ditetapkan tersangka dikenakan Pasal 214 KUHP juncto Pasal 212 KUHP lantaran melawan petugas dengan ancaman penjara tujuh tahun.
(wis/obs)