Pernah berprofesi sebagai jurnalis sejak 2009 di sejumlah media nasional, gemar memasak, jalan-jalan dan bermain musik.
Drama Ahok, Rizieq Shihab serta Ucapan Terima Kasih untuk FPI
hafizd.ahmad | CNN Indonesia
Kamis, 19 Jan 2017 08:23 WIB
Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNNIndonesia.com
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2017 panas, semua menyorot arena Pertarungan di DKI Jakarta. Wajar, namanya juga ibu kota. Tapi belakangan, setelah kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan si petahana Basuki Tjahaja Purnama, semua berubah.Tiba-tiba ada Buni Yani, yang sejak pertama muncul, saya tidak pernah sekali pun mendengarnya, sampai-sampai dia jadi tersangka karena diduga menyebarkan berita hoax Ahok di Kepulauan Seribu, beberapa bulan yang lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah Buni, munculah kembali Rizieq Shihab yang sempat populer di 2003. Membela Buni, dengan bendera Front Pembela Islam, Habieb muncul paling depan. Meminta dengan segera Ahok dipenjara setelah menjadi tersangka.
Kali ini Ahok tidak hanya muncul di media kovensional (dalam tatanan kaidah jurnalistik), tapi menjadi pemeran utama dari situs-situs yang sekarang sudah di blokir Kementerian Komunikasi dan Informasi.
Dan belakangan Rizieq Shihab bak pemeran pembantu utama, sebuah peran yang sangat serius dan pentingnya, jika "keriuhan" ini diibaratkan sebuah film.
Buni Yani jadi tersangka karena dugaan penghasutan SARA. (ANTARA FOTO/Reno Esnir) |
Tapi saya belum puas, karena banyak kelompok dan individu berseberangan pendapat dengan Ahok.
Belum puas sampai tahu bagaimana nasibnya, dari status terangka akibat pelaporan Buni. Setelah Buni, gelaran drama di media pun tersaji.
Ada aksi bela Islam 4 November 2016 (411) yang jadi hidangan pembuka kedua (hidangan pembuka pertama tentu saat pertama kemunculan Buni) dalam sebuah aksi yang diklaim melawan penista agama.
Aksi 411 sangat fenomenal, ribuan orang berkumpul di kawasan Sudirman-Thamrin, dengan membawa nama-nama besar, seperti Aa Gym sampai Ahmad Dhani.
Tapi tetap Ahok yang punya "meja", Ahok pasti tak luput dari pemberitaan, meskipun saya cukup bosan.
Aksi 411 membuat publik terkejut karena 'nyaris' berlangsung damai.
Namun, pembuktian diperlihatkan dalam aksi berikutnya di jilid II, atau dikenal aksi bela Islam 212. Bukan angka sakti pendekar Wiro Sableng, tapi karena berlangsung Jumat, 2 Desember 2016.
Dan aksi itulah yang jadi pamungkas atau sebagai hidangan utama. Aksi berlangsung damai tertib, bahkan Presiden Joko Widodo pun bersedia turun dari singgasana Istana Kenegaraan. Aksi ini layak disebut aksi jempolan, yakni dengan pemberitaan seputar itu, yang cukup membuat saya terhibur sebelum tidur, atau mengerutkan dahi dan meme yang bertebaran.
Berita 'Sajian Penutup'
Publik tampaknya sudah cukup puas dengan hidangan utama, dan saatnya hidangan penutup disajikan. Dengan harapan, sajian penutup ada di persidangan Ahok dan Buni, untuk menunjukkan kualitas rakyat Indonesia yang berjiwa legowo, usai putusan hakim.
Tapi, lagi-lagi tapi. Hidangan penutup terlalu banyak dan tak bisa lagi ditampung, dan tak ada lagi yang mau memakannya. Cukup, sudah cukup puas, sudah cukup kenyang, dengan pemberitaan yang itu melulu.
Aksi 4 November 2016 yang mendesak Ahok segera diproses hukum. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan) |
"Makanan" penutup tak kunjung habis, muncul lagi "makanan" baru. Meskipun gratis, publik sudah kenyang, sangat kenyang. Puas, bahkan mencapai kepuasan tertinggi, yang menimbulkan kehilangan selera.
Menu penutup kini ada di seorang Imam Besar FPI, Rizieq Shihab. Demo berturut-turut ia pimpin, hingga tersandung lima pelaporan ke kepolisian. Oh, enam, karena paling anyar ada laporan seorang hansip yang tersinggung dengan ujaran "Otak Hansip" yang disebut dikeluarkan oleh Rizieq dalam sebuah video di Youtube.
Tak Kunjung Berakhir
Sampai kapan pesta "makan-makan" dengan menu Buni Yani, Ahok, FPI (Rizieq Shihab) dan hidangan lainnya ini berakhir? Karena sudah terlalu banyak santapan yang dilahap. Perut kenyang tak lagi ada sela tampungan. Padahal waktu makan telah habis, dan rakyat (juga saya) harus kembali bekerja. Ya, untuk menghidupi keluarga mereka.
Kini, saya mungkin juga beberapa orang saja, mulai bosan dengan pemberitaan. Bahkan tak lagi menganggapnya serius. Seserius awal-awal. Bahkan sekarang, hanya jadi hiburan pelepas penat sehabis bekerja di perjalanan pulang, di dalam TransJakarta, sambil baca-baca, lewat telepon pintar.
Publik mungkin tidak lagi punya selera, minimal tak sekuat selera di saat "lapar".
Rizieq Shihab dilaporkan oleh sejumlah pihak terkait dengan penistaan agama.(ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A) |
Maka, saat publik merasa kenyang, puas (atau bisa dibaca bosan) dengan pemberitaan itu-itu saja, di luar materi substansi (proses hukum dari siapa pun yang terlibat), maka bersiaplah ditinggalkan. Setelah kenyang, kantuk pun melanda.
Saat kenyang, maka tentu saya berhenti makan. Jika makanan terus dihidangkan, paling secuil saja untuk mencicipinya, tak lagi ada selera untuk memakannya.
Saya sudah merasa puas dengan aksi FPI beberapa pekan ini, termasuk Ahok (di luar kasus hukumnya) dan idiom yang tiba-tiba populer langsung bertagar di jagad maya.
Saya sudah puas, hingga tak lagi menginginkannya. Terimakasih FPI.
Buni Yani jadi tersangka karena dugaan penghasutan SARA. (
Aksi 4 November 2016 yang mendesak Ahok segera diproses hukum. (A
Rizieq Shihab dilaporkan oleh sejumlah pihak terkait dengan penistaan agama.(