Pada sidang lanjutan kasus dugaan penodaan agama yang menjerat Basuki alias Ahok, Selasa (31/1) malam, tim kuasa hukum cagub DKI Jakarta itu juga mempertanyakan bukti foto kopi KTP warga yang memberikan kuasa pada Ibnu.
Alih-alih beralamat di Cibubur, warga pemberi kuasa justru beralamat di Pancoran hingga Cileungsi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami tidak mempermasalahkan karena surat kuasa ini hanya foto kopi dari polisi. Laporannya juga pribadi," kata hakim Dwiarso.
Selain itu, Dwiarso menilai Ibnu tak wajib meneken surat kuasa lantaran dapat memberikan keterangan saat persidangan.
Ibnu mengaku sempat mengumpulkan sejumlah jamaah masjid di kawasan Kota Wisata, Cibubur, untuk membahas dugaan penodaan agama pidato Ahok saat berkunjung ke Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu.
"Hampir sebagian besar mengatakan perkara ini adalah penodaan. Saya kemudian minta mereka memberikan surat kuasa sebagai dasar pelaporan. Ada sekitar 108 orang," ujar Ibnu saat memberikan keterangan.
Ibnu kemudian melaporkan dugaan penodaan agama itu pada 12 Oktober 2016. Ia menyerahkan bukti berupa disket, salinan pendapat, dan sikap keagamaan Majelis Ulama Indonesia.
"Saya marah karena Al-Quran disebut sebagai kebohongan. Awalnya saya ragu, tapi setelah ada bukti tambahan saya yakin terdakwa memang punya niat melakukan penodaan agama," katanya.
Pada kasus ini, Ahok didakwa melakukan penodaaan agama terkait ucapannya soal surat Al-Maidah ayat 51 saat berkunjung ke Pulau Pramuka. Ia didakwa dengan dakwaan alternatif pasal 156 huruf a dan atau pasal 156 KUHP lantaran menodakan agama dengan penyebutan surat Al-Maidah ayat 51. (abm)