BNPB: 279 Warga Bekasi Dievakuasi Akibat Banjir

Antara, CNN Indonesia | Senin, 20/02/2017 13:13 WIB
BNPB: 279 Warga Bekasi Dievakuasi Akibat Banjir Warga melintasi banjir yang merendam kawasan permukiman Kampung Buaran, Harapan Mulya, Bekasi, Jawa Barat, Minggu (19/2). Banjir masih terjadi sampai hari ini. (ANTARA FOTO/Risky Andrianto)
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat sedikitnya 279 warga Kota Bekasi, Jawa Barat, dievakuasi ke tempat pengungsian akibat rumah mereka terendam banjir sejak 19 Februari 2017.

"Sebanyak 119 jiwa merupakan warga Perumahan Nasio Jatiasih dan 160 jiwa warga di Kelurahan Kalibaru, Kecamatan Medansatria," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Nugroho di Bekasi, seperti dikutip Antara, Senin (20/2).

Banjir akibat hujan deras telah merendam 14 perumahan warga di Kota Bekasi, Jawa Barat, sejak kemarin. Pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Bekasi melaporkan banjir saat ini justru bertambah tinggi karena hujan masih berlangsung.
Perumahan yang terendam banjir tersebut di antaranya Perumahan Dosen IKIP, Surya Mandala, Mutiara Gading Timur, Pondok Timur Indah, Pondok Ungu Permai, Nasio, Interup Asri, Pondok Hijau Permai, Pondok Chandra, Harapan Mulya, Perum Bougenvil, Griya Jatisari dan Kompleks Buana Risma.


BNPB masih mencatat kerugian materiil dalam musibah itu, di antaranya lima rumah rusak berat akibat erosi dan 14 lokasi perumahan digenangi air mulai 15 centimeter hingga 1,5 meter.

"Situasi itu terjadi akibat hujan dengan intensitas tinggi sehingga saluran air dan sungai meluap," katanya.

Pihaknya juga telah menyalurkan kebutuhan logistik ke lokasi bencana dan mengevaluasi warga di Perumahan IKIP, Pondok Hijau Permai dan Pondok Ungu Permai.
Sementara itu Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi mengakui seluruh proyek kolam retensi atau tandon yang dibangun sejak 2015 hingga 2016 belum berfungsi optimal menampung curah hujan.

Rahmat mengatakan, hal kondisi itu terbukti dengan musibah banjir yang merendam 14 perumahan warga.

"Kita akan evaluasi lagi kolam retensi ini, karena hampir semuanya meluap karena tidak mampu menampung air hujan dan limpasan sungai," katanya di Bekasi, Senin.
Rahmat menduga belum berfungsinya kolam retensi itu diakibatkan sistem pompa yang kurang baik.

"Pompanya harus dievaluasi lagi, sehingga air masuk (kolam retensi) bisa diarahkan pembuangannya ke saluran yang mampu menampung air," katanya.