Kepala BNPB Willem Rampangilei mengungkapkan sejak 1972 hingga 2014 angka penggunaan lahan di DKI Jakarta semakin menggerus lahan-lahan lainnya.
"Jika dilihat, perubahan penggunaan lahan di Jabodetabek dari 1972 hingga 2014 menunjukkan peningkatan yang sangat cepat," kata Willem saat ditemui di Gedung BNPB, Jakarta, Rabu (22/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dan faktor antropogenik (perusakan alam akibat ulah manusia) seperti itulah yang dianggap Willem lebih dominan menyebabkan banjir di DKI Jakarta dan sekitarnya.
Dulu, lanjut Willem, pola curah hujan di Indonesia dimulai pada Oktober dan berakhir pada Maret. Sedangkan musim kemarau muncul mulai April hingga September.
Fenomena itu lantas berubah akhir-akhir ini, perubahan iklim secara global membuat pola musim hujan di Indonesia berubah menjadi hanya empat bulan. Hal itu juga berimbas pada kemarau yang lebih panjang yaitu delapan bulan.
Dengan volume hujan yang tetap sama tapi pola hujannya menjadi lebih sempit, Willem mengatakan bahwa jumlah air yang turun menjadi lebih banyak dan menyebabkan banjir terjadi di mana-mana. Banjir pun tak hanya melanda DKI, tapi juga wilayah-wilayah lain di sekitar ibu kota.
"Jadi polanya berubah dari yang tadinya enam bulan menjadi empat bulan, ditambah lagi ada cuaca ekstrem," katanya.
"Perubahan iklim global menyebabkan curah hujan berubah baik intensitas, sebaran, dan besaran hujannya."