Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Martinus Sitompul mengatakan, Polri sebelumnya telah mendapatkan informasi keberadaan sejumlah WNI di provinsi Filipina bagian selatan itu. Mereka disebut datang ke Lanao del Sur untuk menjalani pelatihan terorisme.
"Penemuan paspor tidak mengejutkan kami karena memang beberapa tersangka terorisme di Indonesia pernah berlatih di wilayah Filipina selatan," kata Martinus di Jakarta, Rabu (26/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terkait tewasnya tiga WNI di Lanao del Sur, Martinus menyebut kepolisian akan tetap mengambil langkah hukum. Ia berkata, Polri masih menunggu data valid dari pihak militer Filipina.
Di antara puluhan orang tewas itu adalah anggota kelompok Maute setempat dan tiga orang WNI beserta satu warga Malaysia yang pernah menjadi anggota Jamaah Islamiyah, kelompok teror yang sempat aktif di Indonesia dan terkait dengan bom Bali 2002.
Otoritas menemukan bendera dengan simbol ISIS, senapan dan granat. Selain itu, ada pula bahan baku bom, telepon genggam dan seragam loreng, kata Letnan Jenderal Carlito Galvez.
Dia juga mengatakan turut menemukan paspor seorang warga Indonesia dalam kesempatan tersebut.