Polisi Minta Masyarakat Laporkan Geng Motor Pembuat Onar

Martahan Sohuturon, CNN Indonesia | Selasa, 23/05/2017 22:35 WIB
Polisi Minta Masyarakat Laporkan Geng Motor Pembuat Onar Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Rikwanto. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Rikwanto meminta masyarakat membuat laporan polisi bila menemukan atau melihat geng motor yang berbuat onar dan menimbulkan keresahan di sekitar lingkungan.

Dia mengatakan, pihaknya belum mengambil langkah hukum terhadap geng motor yang dikabarkan melakukan aksi brutal di sekitar kawasan Jabodetabek. Pasalnya, kebenaran video dan informasi terkait aksi brutal geng motor yang tersebar lewat media sosial itu belum bisa dikonfirmasi.

"Sampai saat ini, belum ada laporan ke kami terkait peristiwa tersebut (video geng motor). Kalau ada masalah di lapangan, kami minta diinformasikan supaya bisa kami tangani, tapi kalau tidak ada jangan diada-adakan," kata Rikwanto di Mabes Polri, Jakarta, Selasa (23/5).

Dia menyampaikan, penindakan terhadap geng motor yang terakhir dilakukan kepolisian terjadi di Jatiwaringin, Jakarta Timur pada Minggu (21/5). Saat itu, kata Rikwanto, polisi menangkap lima orang sebagai terduga pelaku.


"Kemarin di Jatiwaringin yang ada geng motor. Itu sudah kami tahan dan proses hukum," ucapnya.

Sejumlah video aksi onar geng motor di Jagakarsa, Jakarta Selatan, tersebar lewat media sosial. Beberapa pemuda terlihat memberhentikan motor dengan menggunakan senjata tajam dan benda yang menyerupai kayu.

Dalam video tersebut, terlihat sejumlah pengendara motor menjadi korban setelah terjatuh dan diserang oleh pemuda dengan senjata tajam.

Menurut Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Metro Jakarta Selatan Ajun Komisari Besar Budi Hermanto, peristiwa yang ditampilkan dalam video tersebut terjadi pada Februari silam.

Namun, saat ditanya lebih lanjut perihal langkah hukum yang telah dilakukan polisi terkait insiden tersebut, dia enggan menjawab. "Itu kejadian Februari 2017," kata Budi saat dikonfirmasi.