Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri mengatakan keduanya berinisial AS dan BF. Mereka ditangkap di dua lokasi berbeda di Cipayung, Jakarta Timur lantaran diduga mengenal baik Ahmad Sukri, salah satu pelaku bom bunuh diri di Kampung Melayu.
"AS dan BF diduga mengenal baik dengan pelaku Ahmad Sukri," kata Martinus di Markas Besar Polri, Jakarta Selatan, Selasa (30/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Martinus mengatakan, pihaknya masih akan mendalami peran keduanya dalam peristiwa bom bunuh diri di Kampung Melayu dan belum menetapkan status AS dan BF sebagai tersangka.
Densus juga telah menangkap adik ipar Ahmad Sukri yang berinisial HR (35) bersama istrinya berinisial IS (27) di Garut, Jawa Barat, Jumat pagi (26/5). Namun setelah dilakukan pemeriksaan dan tidak ditemukan dugaan keterlibatan, keduanya dipulangkan, Minggu (28/5).
Satuan antiteror itu juga menangkap dua orang berinisial R alias B dan K di Cibubur, Jawa Barat pada Sabtu (27/5). Keduanya ditangkap lantaran sempat menjalin komunikasi dengan Ahmad Sukri.
Sebelumnya, Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan bahan peledak yang digunakan oleh pelaku teror di Kampung Melayu merupakan ciri khas kelompok militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).
Lihat juga:Melawan Si Teror yang Sesat Pikir |
Dia menuturkan bahan ini mudah dibuat karena hanya membutuhkan cairan pembersih kuku dan tidak membutuhkan detonator.
"Ini ciri khas kelompok ISIS. Mereka banyak sekali menggunakan TATP ini. Serbuk ini gampang dibuat. Bahan dasar (cairan) untuk membersihkan kuku. Ini sangat berbahaya, cukup panas dia bisa meledak," kata Tito saat memberikan keterangan pers di Rumah Sakit Bhayangkara Said Sukanto, Kramatjati, Jakarta Timur, Jumat (26/5).