"Bukannya menjadi reda, mereka malah memaki-maki saya dan menjadi-jadi," katanya.
Rabu, 23 Mei 2017, ia kembali dikontak dari RS Solok untuk meminta ia segera ke kantor.Di sana, kata Fiera sudah menunggu banyak orang berjubah putih yang didampingi polisi. Tiba di RS Solok, ia menemui dokter Elfahmi. Pimpinannya itu, kata Fiera meminta agar patuh pada keinginan FPI agar selamat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya mengucapkan hal tersebut dengan terbata-bata, menahan tangis karena Dibawah tekanan polisi," ceritanya.
Fiera tak menyangka jika masalahnya itu sudah selesai. Dia menyebut foto pertemuan ia dengan petinggi FPI itu kembali diviralkan di Facebook dengan tambahan kalimat provokatif. Tak hanya itu, kata Fiera, ada juga yang mengancam akan membunuhnya dengan cara yang kejam.
"Mereka menuduh saya sebagai pelacur, penghina ulama. Mereka menuduh saya komunis dan PKI. Mereka menuduh saya murtad, semua caci maki dan ungkapan kebencian mereka tumpahkan ke saya," kata Fiera.
Bentuk teror itu terus berlanjut, kata Fiera. Ia kerap melihat orang mendatangi rumahnya. Ada juga oknum yang bahkan mendatangi rumahnya untuk melampiaskan dendam. Sejauh itu ia masih merasa tak mendapat dukungan dari rekan maupun keluarga.
Lihat juga: LSM Waspadai 10 Aksi Pemburu 'the Ahok Effect' |
"Saya lelah karena seharian di Polres," katanya.
Dua hari sesudahnya, Minggu 28 Mei, Fiera didatangi orang yang mengaku dari Kodim Solok. Ia menolak bertemu. Namun sempat mengambil gambar mereka disebutnya selama satu jam lebih tidak beranjak. Kemudian, siangnya ia didatangi polisi. Lagi-lagi ia menolak bertemu.
"Saya lelah secara fisik dan psikis makanya seharian tidak mau bertemu. Untuk alasan keamanan, terutama mengingat dua buah hatinya, Fiera pun memutuskan untuk meninggalkan Solok.
Setelah dibantu oleh koleganya di luar wilayah Sumatera Barat, ia pun terbang ke Jakarta keesokannya. Tak lupa ia memberitahu pihak Polresta Solok, RSUD Solok dan pihak kemanaan kompleks rumahnya.
"Kepala keamanan sempat bersitegang dengan saya karena menilai gara-gara saya kompleks itu sering didatangi orang," ujarnya.
Di kantor LBH didampingi oleh Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia dan beberapa LSM, Fiera kembali meminta maaf dan memetik hikmah dari kejadian yang dialaminya.
"Saya belum memutuskan dan mempunyai rencana ke depan. Namun saya sebagai dokter akan tetap mengabdi untuk masyarakat," kata Fiera.