Menurut Todung, persekusi hanya terjadi di negara gagal atau negara yang tengah mengalami masa transisi seperti Rwanda dan Yugoslavia (pecahan Uni Soviet).
"Saya tidak bisa membayangkan itu (persekusi) ada di negara yang sudah 72 tahun merdeka, " kata Todung dalam sebuah diskusi di Resto Tjikini, Jakarta Pusat kemarin.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Persekusi belakangan mendapat sorotan setelah terungkap peristiwa intimidasi yang dialami dokter Fiera dan PMA. Sedangkan berdasarkan data jaringan relawan kebebasan berekspresi di Asia Tenggara (Safenet), kasus persekusi belakangan mengalami peningkatan.
Polanya adalah mencari akun media sosial yang dianggap menghina agama (islam) dan pemuka agama (ulama).
Lihat juga:Korban Persekusi Berada di Safe House |
Pengamat politik Lingkar Madani Ray Rangkuti menyebut aksi persekusi yang belakangan marak tak bisa lepas dari proses politik, terutama selama masa Pilkada 2017.
Selama pilkada tersebut, kata Ray, banyak ujaran kebencian mengemuka dan tak jarang dikeluarkan oleh elit-elit partai. Karena itu, Ray mendesak dibuat komitmen atau pernyataan dan tindakan tegas dari elit politik untuk menghentikan persekusi di Indonesia.
"Karena ini (persekusi) merusak demokrasi dan meruntuhkan kepercayaan atas hukum," ujar Ray.
Lihat juga:Jokowi: Hentikan Persekusi |