Jihad Baru Eks Teroris dan Warna-Warni Deradikalisasi

Patricia Diah Ayu Saraswati , CNN Indonesia | Rabu, 12/07/2017 10:44 WIB
Jihad Baru Eks Teroris dan Warna-Warni Deradikalisasi Ilustrasi perang terhadap terorisme. (REUTERS/Omar Sobhani)
Jakarta, CNN Indonesia -- Program deradikalisasi kepada para mantan teroris sudah dilakukan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) sejak 2011 silam.

Direktur Deradikalisasi BNPT Irfan Idris mengatakan, program deradikalisasi tersebut dilakukan oleh BNPT di tiga titik, yaitu di dalam lembaga pemasyarakatan, di luar lembaga pemasyarakatan, dan di pusat deradikalisasi BNPT yang berlokasi di Sentul, Bogor, Jawa Barat.

Irfan mengatakan program deradikalisasi di dalam lapas dilakukan dengan empat cara, yaitu identifikasi, rehabilitasi, re-edukasi, dan re-integrasi.

Untuk program deradikalisasi di dalam lapas, ditujukan kepada narapidana kasus terorisme yang sudah divonis maupun yang masih menjalani pemeriksaan.

Sama halnya yang dilakukan di lapas, program deradikalisasi di luar lapas juga dilakukan dengan empat cara.

"Di luar juga ada identifikasi, karena baru bebas di mana dia tinggal, dengan siapa dia tinggal, apa pekerjaannya, kemudian kami lakukan pembinaan wawasan kebangsaan, keagamaan, dan kewirausahaan," kata Irfan kepada CNNIndonesia.com, pada Juni.

Membina Kewirausahaan

Pembinaan kewirausahaan tersebut, menjadi salah satu bentuk pemberdayaan ekonomi kepada mantan napiter, singkatan dari narapidana kasus terorisme, yang dilakukan oleh BNPT. Untuk pemberdayaan ekonomi tersebut, BNPT bekerja sama dengan dinas koperasi yang ada di daerah.

Dinas koperasi tersebut, kata Irfan akan memberikan pemahaman dan pengetahuan tentang cara membuka sebuah usaha bagi para mantan napiter.

"Kami back up lewat dinas koperasi, karena kan belum terlalu besar usaha yang ingin mereka lakukan, kami siapkan sementara, misal mau jadi tukang jahit, mau jual kartu perdana, yang penting mereka sibuk," ujar Irfan.

Meski telah melakukan pemberdayaan ekonomi lewat koperasi, Irfan mengatakan sampai saat ini BNPT belum melakukan MoU dengan Kementerian Koperasi.

"Secara formal belum, tapi setiap daerah kami ajak teman-teman dinas koperasi memberikan motivasi, memberikan penguatan agar nantinya mereka siap melakukan kegiatan ekonomi," ucapnya.
Senada dengan Irfan, Direktur Perlindungan BNPT Brigjen Pol Herwan Chaidir mengatakan pemberdayaan ekonomi kepada mantan napiter dilakukan dengan membuat kelompok wirausaha.

Herwan menyebut jika para mantan napi teroris memilliki keinginan untuk membuka sebuah usaha, BNPT akan pro-aktif memberikan bantuan, bisa dengan mengadakan workshop atau membantu mencarikan peralatan.

"Misal dia mau ternak kambing, mau bikin kuliner, ya kami datangkan ahlinya, kami bikin workshop, demo, kami bantu carikan peralatan. Misalnya yang ternak kambing itu ada di rumahnya Ali Fauzi," kata Herwan.
Jihad Baru Eks Napiter dan Warna-Warni Deradikalisasi BNPT memberikan fasilitas kepada eks narapidana kasus terorisme untuk berbuat baik di antaranya memfasilitasi pembangunan pesantren. (ANTARA FOTO/Irsan Mulyadi)

Memberikan Rekomendasi

Herwan juga menyebut BNPT sebenarnya telah memberikan kemudahan dalam hal rekomendasi yang bisa dimanfaatkan oleh para mantan napi teroris untuk mencari pekerjaan.

"Kami memberikan kemudahan dalam rekomendasi, misal dia mau jadi pengojek yang kami beri rekomendasi agar pembuatan dibantu dalam pembuatan SIM, KTP. Jadi jangan karena dia mantan teroris hak dia sebagai warga negara juga tidak diperoleh," ujarnya.

"Kami sudah imbau ke polisi tolong dibantu, biasanya dibantu. Cuma judge dari orang umum yang enggak gampang menerima, itu juga yang bikin mereka susah dapat pekerjaan," imbuhnya.

Selain pemberdayaan ekonomi, BNPT lanjur Herwan juga membangun pesantren bagi para mantan narapidana kasus terorisme. Saat ini sudah ada dua pesantren yang sudah dibangun yang berlokasi di Medan, Sumatera Utara dan Lamongan, Jawa Timur.

"Kami membangun pesantren ada di Medan sama Lamongan. Kan semua mantan teroris ini tidak semuanya ingin kembali , ada yang ingin sadar, ada yang ingin menebus dosa," ucap Herwan.

Pengawasan Fasilitas Pesantren

Membangunan fasilitas pesantren tersebut, menurut Herwan juga bertujuan untuk lebih mengarahkan dan menertibkan kegiatan dari para mantan napi teroris tersebut.

BNPT juga tetap melakukan pengawasan terhadap aktivitas yang dilakukan di dalam pesantren sehingga tidak disalahgunakan.

"Ya kami juga awasi penggunaan, supaya enggak disalahgunakan, nanti kalau enggak diawasin justru bisa dimanfaatkan untuk menyebarkan paham-paham tertentu," tutur Herwan.

Terkait pemberdayaan ekonomi mantan napi teroris, Pejabat Direktorat Keamanan Negara Badan Intelijen Keamanan Polri, Ajun Komisaris Besar Syuhaimi juga mengatakan pihaknya saat ini tengah mendorong upaya pemberdayaan ekonomi untuk para mantan napi teroris.

Jika ekonomi para mantan napi teroris tersebut baik, lanjut Syuhaimi, maka diharapkan juga dapat mengubah cara berpikir mereka sehingga tidak kembali ke teroris lagi.

"Pertimbangannya kalau mereka-mereka ekonominya bagus, tentu cara berpikirnya akan semakin lebih smart," kata Syuhaimi.
Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Terjebak Nostalgia Eks Teroris