Dalam situs hizbut-tahrir.or.id disebutkan gerakan mereka menitikberatkan pada perjuangan membangkitkan dan menegakkan kembali Khilafah Islamiyah.
Ketua Muslim Moderate Society Zuhairi Misrawi menerangkan tiga faktor menyebabkan HTI berkembang di Indonesia. Pertama, terjadi pembiaran pada kelompok ekstrem radikal selama 10 tahun pascareformasi. Kedua, HTI cerdas dalam memainkan wacana saat menyebarkan paham khilafah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketiga, ada perdebatan tentang bagaimana membubarkan HTI dari kacamata hak asasi manusia (HAM). Sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) angkat bicara ketika pemerintah menyatakan akan membubarkan HTI pada Mei lalu.
Sementara itu, Nuruzzaman menilai berdasarkan kajiannya ada tiga langkah yang dilakukan HTI untuk menerapkan sistem khilafah di Indonesia.
Pertama, merekrut anggota secara diam-diam. Kedua, mengenalkan diri dengan bendera, buletin Jum'at serta dakwah. Ketiga, merebut sesuatu kekuasaan negara untuk menerapkan khilafah.
Nurruzaman mengatakan ada satu tahap sebelum memasuki tahap ketiga yang disebut nusroh.
"Nusroh itu adalah melakukan lobi terhadap pemangku kepentingan, misal di keamanan mereka lobi polisi dan tentara untuk kudeta. Satu cara yang dilakukan mereka untuk rebut negara dengan kudeta seperti di Yordania," kata Nurruzaman.
Nurruzaman melanjutkan, "Secara ideologi, ISIS dan HTI sama. Hanya cara yang berbeda, ISIS dengan cara keras kalau HTI pelan-pelan. Tapi sama-sama merebut kekuasaan."
Lihat juga: Menghidupkan Pancasila di Era Jokowi |
![]() |
