Keluhan Warga soal Trotoar Meningkat 200 Persen

Filani Olivia, CNN Indonesia | Senin, 07/08/2017 12:08 WIB
Keluhan Warga soal Trotoar Meningkat 200 Persen Keluhan warga soal trotoar melalui aplikasi qlue meningkat hingga 200 persen. (CNNIndonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Laporan dan keluhan warga mengenai buruknya kondisi trotoar di ibu kota melalui aplikasi Qlue meningkat hingga 229 persen pada Juli 2017 lalu.

"Sejak Juni, laporan tentang trotoar rusak memang sudah meningkat sebanyak 126 persen dari bulan sebelumnya. Bulan lalu, laporan meningkat sampai 229 persen," kata Marketing Strategist Qlue Sarah Ramadhania, kepada CNNIndonesia.com, Sabtu (5/8).

Keluhan mengenai buruknya kondisi trotoar tersebut, kata Sarah, paling banyak berasal dari warga di kawasan Pulo Gadung dan Duren Sawit di Jakarta Timur serta kawasan Tanjung Priok di Jakarta Utara.


Dengan ini, kata Sarah, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dirasa perlu mengkaji lebih jauh apa yang menyebabkan laporan kerusakan trotoar terus meningkat.
"Karena kami hanya menerima laporan trotoar rusak. Sementara yang melapor juga tidak mengerti penyebab rusaknya trotoar tersebut. Apakah kontur tanah di kawasan tersebut memang perlu perhatian khusus dan sebagainya," ucapnya.

Tingginya keluahan warga soal trotoar itu kurang diimbangi dengan respons Pemprov. Belum semua keluhan bisa ditangani. Sarah menyebut tindak lanjut pada laporan itu bulan lalu hampir 83 persen.

Sementara itu, Kepala Seksi Perencanaan Prasarana Jalan dan Utilitas Dinas Bina Marga DKI Jakarta Riri Asnita menilai tindakan sewenang-wenang para pengendara roda dua maupun roda empat yang menggunakan trotoar sebagai lahan parkir bisa jadi salah satu penyebab rusaknya sejumlah trotoar di ibu kota.
"Trotoar itu kan fungsinya untuk pejalan kaki. Jadi, kualitas yang kami bangun memang bukan untuk menampung kendaraan. Kalau tiba-tiba ada mobil parkir di atas trotoar, otomatis kan kekuatan dari badan trotoar ini semakin lemah," ujarnya. 

Sebab itu, ujar Riri, dibalik kerasnya upaya pemerintah untuk menata dan membangun trotoar di ibu kota, perlu kesadaran tinggi dari masyarakat Jakarta sendiri. Baik pengguna kendaraan pribadi maupun pedagang kaki lima yang masih sering mengokupasi jalur pedestrian untuk berjualan, agar tidak lagi menyandera hak para pejalan kaki atas trotoar.

"Karena kalau rusak, ya biaya lagi. Masyarakat sendiri yang rugi. Karena difungsikan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab, akhirnya jadi tidak nyaman berjalan di atas trotoar. Anggaran APBD yang harusnya bisa membangun di tempat lain, malah balik lagi buat perbaikan," kata Riri.
[Gambas:Video CNN]