Misteri Kematian Johannes Marliem dan Jelimet Kasus e-KTP

Feri Agus Setyawan, CNN Indonesia | Rabu, 16/08/2017 06:41 WIB
Johannes Marliem ditemukan tewas di kediamannya di sebuah perumahan elite Los Angeles, Amerika Serikat pada 10 Agustus 2017. (Screenshoot via Facebook/@Johannes Marliem)
Jakarta, CNN Indonesia -- Johannes Marliem ditemukan tewas di rumahnya di kawasan elite Los Angeles, Amerika Serikat, Kamis (10/8). Kematian salah satu saksi kasus korupsi e-KTP itu membuat geger publik terutama di Indonesia.

Kematian Johannes terjadi beberapa saat setelah di lingkungan yang sama terjadi penyergapan polisi terhadap pelaku penyandera di kawasan Edinburgh Avenue--sebuah kawasan perumahan elite di Los Angeles. Sejauh ini pemberitaan di media AS menyebut Johannes tewas karena diduga bunuh diri.

Johannes adalah petinggi perusahaan yang terlibat dalam pengerjaan proyek pengadaan e-KTP di Kementerian Dalam Negeri. Namanya muncul dalam surat dakwaan untuk Andi Agustinus alias Andi Narogong yang sudah dibacakan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta kemarin, Senin (14/8).


Andi Narogong merupakan penggarap proyek e-KTP. Sementara Johannes merupakan Direktur PT Biomorf Lone LLC, sub-kontraktor dari Konsorsium PNRI. Pengadaan AFIS L-1 dikerjakan oleh PT Biomorf Lone Indonesia dan Biomorf Mauritius. Dalam surat dakwaan tersebut dijelaskan Johannes bisa terlibat dalam dalam proyek strategis nasional di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, setelah 'dibawa' oleh mantan Sekretaris Jenderal Kemendagri Diah Anggraini.

Diah memperkenalkan Johannes kepada pengusaha Andi Narogong saat bertemu di Restorant Peacock, Hotel Sultan, Jakarta pada sekitar Oktober 2010. Saat itu, Diah menyebut Johannes sebagai pemasok produk Automated Finger Print Identification Sistem (AFIS) merek L-1.
"Atas arahan tersebut, Sugiharto menindaklanjuti dengan cara mengarahkan Johannes Marliem untuk langsung berhubungan dengan ketua tim teknis, yakni Husni Fahmi," demikian bunyi dalam surat dakwaan Andi Narogong yang diakses CNNIndonesia.com.

Sugiharto kala itu menjabat sebagai Direktur Pengelolaan Informasi dan Administrasi Direktorat Jendaral Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kemendagri. Selain itu, Sugiharto adalah pejabat pembuat komitmen (PPK) dalam proyek e-KTP. Ia bersama koleganya, yang kala itu menjabat Direktur Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil, Irman, sudah divonis hakim dalam korupsi e-KTP pada 20 Juli 2017.
Johannes Marliem, dari e-KTP Hingga KematiannyaIrman dan Sugiharto, dua mantan pejabat Kementerian Dalam Negeri telah divonis majelis hakim pengadilan tipikor Jakarta dalam kasus korupsi e-KTP. (CNN Indonesia/Andry Novelino)

Kongkalikong Tim Fatmawati


Selanjutnya, dalam dakwaan untuk Andi Narogong itu dijelaskan bahwa sebagai persiapan pengerjaan proyek e-KTP dirinya menggelar pertemuan dengan tim yang mempersiapkan proses tender hingga pengadaan. Andi Narogong pun menggelar pertemuan di ruko miliknya di kawasan Fatmawati, Jakarta Selatan.

Para pihak yang terlibat dalam pertemuan itu selanjutnya disebut Tim Fatmawati. Johannes sebagai penyedia produk AFIS merk L-1, dan sejumlah vendor lainnya dalam proyek e-KTP ini juga hadir dalam pertemuan Tim Fatmawati itu.

Tim Fatmawati berperan dalam mengatur semua proses tender proyek e-KTP. Lewat tim tersebut, Andi Narogong membentuk tiga konsorsium untuk ikut tender proyek senilai Rp5,9 triliun.

Tiga konsorsium itu adalah Konsorsium PNRI, Astragraphia, dan Murakabi. Dalam hal itu, Andi disebut telah menentukan sebelum tender dilakukan agar yang keluar sebagia pemenang adalah PNRI.
Walhasil, Konsorsium PNRI yang terdiri dari Perum PNRI, PT LEN Industri, PT Quadra Solution, PT Sucofindo dan PT Sandipala Arthaputra, menjadi pemenang lalu mengerjakan proyek e-KTP tahun anggaran 2011-2012.

Perangkat AFIS L-1 yang ditawarkan Johannes itu pada akhirnya digunakan untuk merekam data dalam proyek e-KTP.

Selain pertemuan di Fatmawati, Andi Narogong pun disebutkan sempat mengajak Johannes bertemu Setya Novanto yang psaat ini Ketua DPR. Andi mempertemukan Johannes dengan Setya Novanto kala memperkenalkan Paulus Tanos dan Vincent Cousin selaku Country Manager STMicroelectronics for Indonesia.
1 dari 2