Pernyataan itu ia sampaikan setelah tim kuasa hukum Ketua DPR Setya Novanto (Setnov) mengajukan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK) terhadap KPK pada tahun 2009-2011 115/HP/XIV/12/2013 tanggal 23 Desember 2013 sebagai alat bukti. LHP tersebut diajukan kuasa hukum Setnov untuk menegaskan SOP penyelidikan, penyidikan dan penetapan tersangka.
"SOP yang dimaksudkan oleh LHP itu tahun 2013 untuk SOP yang disusun tahun 2008. Nah, kami ini sudah ada SOP baru tahun 2015. Jadi, tentunya SOP 2008 dan 2015 pasti beda," kata Setiadi usai sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel), Senin (25/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di lain pihak, salah satu alasan kuasa tim hukum Setnov mengajukan LHP tersebut sebagai alat bukti agar masyarakat mengetahui SOP dalam KPK. Mereka merasa publik tidak pernah tahu seperti apa SOP yang benar.
"Kalau itu nanti digunakan oleh dalil mereka, ya nanti tinggal kami koreksi atau kami tanggapi dalam simpulan," kata Setiadi.
Pada 26 Mei 2015 Hakim Tunggal Haswandi mengabulkan permohonan Hadi serta mencabut statusnya sebagai tersangka. Putusan itu tercatat dengan nomor putusan 36/Pid.Prap/2015/PN.Jkt.Sel.
"Makanya kita berupaya cari sumber informasi KPK, dibuktikan ada nomor LHP-nya. Kita buktikan kita uji apakah SOP yang dari KPK sudah sesuai urutan yang sudah ditentukan SOP," kata Ketut.